Jumat, 20 September 2019

Puisi Bertema Cinta Rakyat pada Pemimpin


Cinta Anak Tukang Kayu
Karya : Selvi Febriani

Tuan-tuan bersender manis penuh gemerlap

Berbadan dosa berlengan hilap

Walau terasa sesak nan senyap

Tetap saja mau diperbudak

Serakah kuasa mengajak



Menyembunyikan realita

Melemparkan dosa

Pada dia yang dituntut tahu segala

Agar dunia menghakimi dan menghujat

Mengemis bela pada rakyat 



Mata lelahmu bertutur

Tulang keringmu bekerja setiap waktu

Namun masih saja ada yang menumpahkan semua salah padamu

Sedang ku tau dirimu hanya mencoba melerai petir abu-abu


Ku tau kau begitu bimbang memutuskan

Pikirmu tak pernah padam

Matamu tak pernah terpejam

Sementara rakyat mulai berkoar

Sepakat dan menentang



Semua kacau balau ditumpahkan

Menuntut keadilan

Bukan berarti ia tidak berupaya

Ketika takdir sudah berkata

Ia pun bisa apa



Tak pernah secuil pun hatiku membencimu

Meskipun berjuta orang mencoba menggoyah rasaku

Percuma saja mereka takkan mampu

Karena kau adalah motivatorku



Aku mencintaimu jauh sebelum kau dilantik        

Jabatanmu sama sekali tak pernah kulirik

Apapun posisimu saat ini atau nanti

Kisahmu tetap melekat hati  



#KMP2SMI
#KOMUNITASODOP
#ODOPBACTH7

Kamis, 19 September 2019


Genre Romance bagi  Penulis Beragama Islam

                                  


Genre romance merupakan genre yang paling memikat para  predator baper. Predator baper biasanya berusia mulai dari 12-18 tahun. Terkadang diusia 19-25 tahun pun masih ada yang setia menjadi predator baper. Terlebih bagi mereka yang tengah mengarungi masa-masa pubertas_genre ini amat diminati dibandingkan dengan genre-genre lainnya. Tidak percaya? Kita tengok maha karya dari para penulis Indonesia yang laris manis diburu oleh para predator baper yang berhasil menarik pembacanya hingga difilmkan_genre ini mengandung magnet yang luar biasa bagi para pembaca.

Tema genre romantis yang paling diincar oleh predator baper itu biasanya seputar anak sekolahan_jatuh cinta, benci jadi cinta, sahabat jadi cinta, cinta segitiga, cinta bertepuk sebelah tangan dan kehilangan cinta. Meluncurkan kisah percintaan masa SMA adalah jurus jitu untuk menarik minat baca generasi milenial yang saat ini mulai berkurang.

Namun ada satu hal yang terlupa ketika menulis genre romantis ini, sering kali kita temui ada diantara penulis yang menyelipkan cerita romantis dengan adegan mesra atau bahkan erotis. Tidak salah memang karena itu hak si penulis. Namun ketika berbicara hukum agama Islam tentu hal itu tidak baik juga. Terlebih dalam cerita tersebut terdapat unsur perjinahan yang dilarang oleh agama. Khususnya untuk para penulis yang beragama Islam harus pintar-pintar menyelipkan adegan romantis dalam koridor kewajaran. Jangan sampai menghalalkan yang haram demi meraup pundi-pundi uang dan ketenaran.

Novel romance Islami saat ini memang tidak sepopuler novel-novel romantis yang lain. Mungkin saja terkesan membosankan bagi mereka yang tidak biasa, bagi saya novel romantis dengan nuansa Islami memiliki hati tersendiri, merasuk hangat dalam jiwa yang sepi, terasa nyata ketika memejamkan mata, berharap menjadi tokoh utama.

Ini adalah tantangan bagi saya. Bagaimana  menyuguhkan sebuah cerita romantis yang tidak mengenyampingkan nilai-nilai Islam. Mengajak para pembaca untuk lebih memahami aturan Islam yang mengharamkan segala bentuk perzinahan.

Saya memilih genre ini tidak lain untuk mengajak dan mengetuk para pembaca agar lebih dekat dengan Islam. Melakukan pendekatan melalui alur yang semoga saja dapat menginspirasi, menjauhkan dari pikiran tidak sehat yang siap menggerogoti. Bukan maksud menasihati hanya saja saya pun membutuhkan teman untuk berintrospeksi.
#KMP2SMI
#ODOPBACTH7
#KOMUNITASODOP

Rabu, 18 September 2019

Puisi Bertema Ide


 Ide 
Karya : Selvi Febriani
Wujud namun tak nampak

Hadir dalam sekejap

Dalam bilik ku meratap

Merindu penuh harap



Tersembunyi dibalik pikiran

Dalam imaji utuh disatukan

Tertutup rapat meski belingsatan           

Diam-diam menemukan  jejak pandang



Mendekat tak tersentuh

Menjauh terasa butuh

Habislah pikirku membatu

Saraf mati tak terenyuh



Meskipun mata tak hentinya mengepak

Menelisik setiap petak

Otak yang kian meledak

Tetap saja, enggan menggertak



Malas akhirnya merasuk

Singgah di labuhan kantuk

Alam bawah sadar mengetuk

Mengajak siang seakan suntuk



 Sulur-sulur sesal kian menjerat

 Menerobos hati yang tertidur pulas

Tinggalah jiwa yang memelas

Menggadaikan sebuah ikhlas 


#KMP2SMI

#ODOPBACTH7

#KOMUNITASODOP

Senin, 16 September 2019

Novel remaja Awal-Dewasa Akhir


Episode 6 :
Hari kedua disajikan benda persegi panjang mengisi ruangan. Sebuah lemari baju plastik empat pintu berukuran sedang. Ternyata note book itu masih disana. Kali ini note book nya terbuka.


Tunggu saja
  



Ia menggeleng. Meletakan kembali tanpa ada rasa ingin tahu yang berlebih. Bergegas untuk siap-siap kesekolah setelah satu hari absen. Gelisah. Ia tak berhasil menenangkan jiwa. Pikirannya berkelut dalam ingatan yang sulit ia terima. Ia khawatir kabar mengenai pernikahannya akan tersebar luas. Ia terlanjur berkata tak ingin menikah muda.

Selepas mengenakan seragam SMA ia berjalan mengamati diri dipantulan kaca meskipun pantulannya pudar. Menyebalkan. Karena tidak ada cermin disana. Merapihkan rok panjang yang menyentuh tungkai kaki,  mengancingkan lengan baju, dan menyematkan jilbab yang setia melekat hangat.

“Fyuuhh…tenang Shevana oke kamu bisa tenang. Melangkah seperti biasa. Fyuuhh…” Tarikan napas yang membuatnya turun naik.

Ada hal yang ia tidak sadari. Bahwa sekarang ia adalah bagian dari keluarga konglomerat. Ketika ia mulai menuruni tangga. Sontak ia dibuat kaget oleh wanita tua berumur yang ditemuinya sore itu.

“Good Morning menantuku” garis kerutan itu semakin tampak ketika ia tersenyum.

Ia hanya mengangguk.

“Sarapan dulu sayang” sambil mencium kening Shevana.

Shevana terenyuh. Ia disambut hangat untuk yang kedua kalinya oleh sang mertua. Air matanya berlinang menahan haru.

“Gadis bermata elang” Sambungnya sambil menatap Shevana. Merangkulnya dan membiarkan tangannya digusur halus oleh sang mertua menuju meja makan yang disajikan sepiring Brötchen.



Roti yang dijadikan sebagai salah satu menu sarapan khas Jerman. Berukuran kecil bertekstur renyah diluar lembut didalam. Sarapan yang tak biasa bagi Shevana. Bagi kebanyakan orang Indonesia yang terbiasa makan bubur, lontong sayur akan terasa kurang jika sarapan hanya menyantap secuil roti saja. Begitu pun dengan Shevana.

 “Gadis baik” Ujar sang mertua.

Ia tersenyum dengan malu menyantap roti. Itulah Shevana ia akan menjadi sosok pendiam ketika berurusan dengan orang yang lebih tua darinya.

“Jangan dulu sekolah, kamu harus banyak belajar disini.”

Shevana tersedak.

Belajar? Maksudnya apa? Aku juga harus belajar untuk persiapan UAMBN. Oh tidak. Gerutunya dalam hati.

“Kamu harus belajar menjadi anggota keluarga kami Shevana.”

Kehidupan Shevana akan berubah dalam waktu singkat. Wajar saja ia sekarang adalah anggota keluarga terpandang. Satu hal yang ingin ia tanyakan kenapa harus ada pernikahan yang terkesan tertutup itu? Kenapa semua terjadi secara tiba-tiba? Ia semakin kesal.

“Mungkin seminggu saja cukup untuk melatihmu”

“Se…se..minggu?” dengan gugup ia bertanya.

“Kenapa sayang? Oke kalau kamu tidak siap dua minggu Momi rasa cukup.”

Ia terguncang.

“Em baiklah se..se..minggu saja nyonya, eh…maksudku Mo…mi..” Ia terbata-bata.

“Namun kamu harus memenuhi salah satu syarat untuk menjadi anggota keluarga kami” ia menoleh.

“Ba..baiklah…” Lidah yang terbiasa menurut kepada Ibunya.

“Kamu harus siap untuk menanggalkan jilbab Shevana”

Hatinya terkonyak. Wajah merona Shevana berubah menjadi merah padam. Ia tak terima.
Bersambung…


#KMP2SMI

#OODOPBACTH7

#KOMUNITASODOP

Minggu, 15 September 2019

Cerpen



Isak Lukisan Bunda

Tubuh mungilnya menggigil. Tangan kecilnya mulai keriput. Ia mengigit bibir bawahnya dengan keras. Basah kuyup. Bagaimana tidak, ia hanya mengenakan kaos tipis lengan pendek berwarna biru cerah yang sejak pagi  setia melekat. Gagal menahan air hujan yang merambat kesetiap pori-pori tubuhnya.

            “Huaaaaahh…udah jam berapa ya? Huaah…” Tanpa rasa malu mulutnya terbuka lebar.

“Aduh ngantuk banget” gadis polos situ bergumam.

 Jemari kecilnya kembali meraih mantel plastik yang tergeletak sempurna ditrotoar. Sebuah mantel yang terbuat dari potongan plastik warna-warni yang dijahit sembarang. Ia mendesah. Tak mau memakai. Lebih baik basah terkena air hujan daripada harus menggunakan mantel plastik norak buatan bunda. Pikirnya. Berkali-kali ia minta dibelikan sebuah payung kepada sang ibunda, namun ibunda tetap menolak.  Akhirnya mau tak mau karena hujan yang kian mengamuk. Dengan malas ia mengeratkan mantel plastik itu sambil berlari kecil ke sela-sela deretan mobil yang terjebak macet disepanjang jalan pusaran kota, menjajakan satu dua lukisan berukuran A4 karya lama sang ibunda.

            “Permisi lukisannya om tante” suaranya terdengar sedikit parau.

Tak ada balasan dibalik mobil mewah itu. Dengan acuh mengabaikan kehadiran gadis polos  yang sedari tadi menunggu secercah harapan dibalik pintu. Ia melangkah kederetan mobil sebelahnya.

            “Permisi lukisannya om tante”

Ia nampak senang. Diturunkan kaca mobil itu setengahnya oleh seorang ibu-ibu bermake up tebal dengan gaya bicaranya yang terkesan menjengkelkan.

            “Eh anak kecil! Minggir! Uh mobil saya jadi bau kan kena baju lusuh kamu. mantel plastik apalagi yang kamu pake ieeuuh! Udah-udah nih” melemparkan uang lima ribu kepada gadis polos itu.

“Ish kecil-kecil udah jadi pengemis” desisnya pelan. 

Gadis polos itu menatap tidak mengerti.

“Tante tante ini uangnya kurang. Lukisan bunda saya harganya lima puluh ribu”

“Eh ini apaan sih?! Udah ya ambil aja uangnya. Lagian siapa juga yang mau beli lukisan jelek kayak gitu. Udah pak ayo jalan.” Ibu-ibu itu memerintahkan sopirnya untuk terus merayap diatas beceknya aspal.

“Tante lihat dulu tante, lihat dulu lukisan bunda saya. Lukisan bunda ini tidak akan rusak meskipun terkena air hujan. Lukisan plastik anti basah tante…tante…tante…“ mobil itu terus merayap ditengah kemacetan yang padat. 

Langit siang tak hentinya meringis, meluapkan emosi yang kian buncah.  Gadis polos itu terlihat putus asa. Ia melipir  ke sebuah toko buku. Setiba didepan pintu, langkahnya menjauh, menyadari kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan untuk masuk. Terlebih ia mengenakan mantel plastik yang menjadi olokan renyah teman-temannya. Gadis polos itu mengurungkan niat.

“Nak! Nak! Sini lah. Mau kemana?” Tanya seorang laki-laki setengah baya berkumis tipis tanpa melangkah keluar karena tercegat oleh guyuran hujan.

Gadis itu menoleh. Menatapnya dingin. Ia meneruskan langkahnya.

“Nak tunggulah sebentar!” laki-laki setengah baya itu mengejar ia yang tak kunjung menghentikan langkahnya.

“Ya Allah nak cepatnya langkamhu. Sampai-sampai setengah hari saya mengejar” Ia tersenyum memuji.

“Tidak mungkin. Masa dari situ kesini sampe setengah hari. Pembohong huuuu” gadis polos itu mengerucutkan bibir.

“Hehe. Iya deh maaf paman bohong.”

“Ada apa?”

“Kamu gak kasihan apa sama paman, paman kehujanan nih. Boleh gak paman  minjem mantel plastiknya?”

“Ih gak boleh dong inikan buatan bunda. Gak mau!”

“Kenapa tadi paman  lihat kamu membuang mantel plastiknya hayo.”

“Bukannya dibuang, aku hanya menaruhnya sebentar. “ Ia berbohong.

Laki-laki setengah baya itu tertawa kecil.

“Ia deh aku gak akan buang lagi”

“Nah, gitu dong. Sekarang kamu mau kemana?”

“Biasa”

Ia tahu maksud perkataan si gadis polos. Laki-laki setengah baya  itu selalu mengamatinya dari jauh, bukan maksud apa-apa ia hanya mengkhawatirkan keadaan anak mantan kekasihnya itu. Ya, laki-laki setengah baya itu sempat menjalin cinta dengan ibu gadis polos itu. Namun, ia bukanlah ayah kandungnya. Entahlah, semua terjadi begitu saja.

 Langit siang kini memancarkan kilau cayahaya dibalik gulungan awan yang menghitam. Meskipun nampak cahaya, tetap saja guyuran hujan tak mau dikalahkan. Setelah mengumpulkan energi, gadis polos itu kembali berteriak menjajakan lukisan plastik anti basah karya ibunya.  

“Permisi lukisannya om” gadis polos itu menawarkan lukisan kepada laki-laki muda dengan perawakannya yang gagah, tengah asik melukiskan kemacetan kota.

Gadis itu mengintip dari balik kaca mobilnya.

“Wuiihh ngelukis om? Dimobil kok ngelukis sih om?” kepalanya celingkukan sambil sedikit berjalan mengikuti laju mobil.

Laki-laki muda itu terganggu konsentrasinya. Ia melirik kearah kaca.

“Argh! Siapa pula ini. ” sambil membuka kaca mobil.

“Ada apa?” Tanya laki-laki itu.

“Enggak om. Saya hanya heran kenapa om malah ngelukis?”

“Prinsip hidup “ Jawabnya. Matanya beralih pandang ke sebuah lukisan yang belum laku terjual.

“Lihat lukisannya.” Pintanya.

Tanpa banyak omong, gadis itu langsung memberikan lukisannya. Laki-laki itu terkejut, napasnya tercekat. Seketika ia turun dari mobil memangku gadis kecil itu dan melangkahkan kaki keluar dari zona macet. Entah apa yang ia pikirkan, ia meninggalkan mobilnya begitu saja. Ia tidak mempedulikan ocehan pengendara lain. Terlalu egosi memang.

“Mana ibu kamu? biarkan saya menemuinya!”

Gadis polos itu mengangguk pelan tanpa heran. Tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai disebuah kontrakan kecil berukuran enam kali empat diujung gang. Gadis itu mengucapkan salam dan memberitahu ibunya akan kedatangan laki-laki itu. Ibunya menghampiri.

“Mas Adrian” Ibunya terkejut. Dadanya terguncang hebat.

Adrian adalah murid les Reina. Ibu gadis polos itu. Adrian SMA adalah seorang remaja yang memiliki bakat melukis yang luar biasa sehingga membuat Reina jatuh hati kepadanya. Adrian pun sama. Kenyamanan yang diberikan oleh Reina berhasil merangkul jiwanya. Reina tidak hanya berperan sebagai guru bagi Adrian, melainkan sebagai sosok istimewa sekaligus cinta pertamanya. Namun sayang, karena terpaut usia yang jauh orang tua mereka tidak setuju dengan hubungannya. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk menikah tanpa restu dari pihak keduanya. Baru saja dua bulan menikah, Adrian memutuskan kembali kerumah orang tuanya. Ia dikabari atas berita yang memilukan tentang kematian ibunya yang diduga bunuh diri akibat ulahnya sendiri. Selepas itu Adrian tak pernah menampakan batang hidungnya kepada Reina.    

“Maafkan saya Ren. Saya hilap. Maafkan saya. Ternyata kamu masih menyimpan lukisan itu. Maafkan saya” suaranya parau. Ia tertunduk. Seketika air matanya pecah. Tak kuasa menahan emosi yang kian menyeruak. Ia tersendat-sendat.

“Inikah anak kita Ren?” Tanya Andrian.

Ibu gadis polos itu mengangguk pelan.

Laki-laki itu memeluk erat tubuh mungil gadis kecil itu.

“Maafkan papah…maafkan papah…maafkan papah..” Keduanya terisak. Gadis polos itu pun mengerti.

Gadis polos itu namanya Tantia. Seorang gadis kecil berusia kurang dari sembilan tahun berbalut mantel plastik basah yang menjajakan lukisan karya ibunya, berusaha meraup rejeki ditengah macet total pusaran kota yang secara kebetulan berhasil mempertemukan ia dengan ayah kandungnya.

#KMP2SMI

#ODOPBACHT7

#KOMUNITASODOP

Sabtu, 14 September 2019

Novel Remaja Akhir-Dewasa Awal



Episode 5 :
Mata sayu mulai menelisik. Sibuk sendiri menerka-nerka. Segudang pertanyaan ia tuliskan di note book kebiruan, jaga-jaga jika suatu saat nanti ia  memang masih tidak berani untuk menanyakan hal ini secara langsung.

“Nyonya Shevana.” Panggil seseorang.      

Ia menoleh kebelakang. Ternyata itu Pak Septo.  Sebenarnya ia tak sabar menunggu kedatangan suaminya.

“Tuan sudah saya beritahu akan kedatangan nyonya.”

Ia bersemangat. Ayolah apa yang dia katakan? Apakah dia menanyakan sesuatu tentangku? Apakah dia pun tak sabar ingin bertemu denganku?. Gerutunya dalam hati. Ingin sekali ia menanyakan itu secara langsung kepada Pak Septo, namun lagi-lagi ia hanya tersenyum.

“Nyonya dipersilahkan untuk makan malam terlebih dahulu.”

Ia mengangguk. Makan malam? Bersama suamiku? Oh ya ampun tak pernah terbersit dalam otaku kalau diusiaku yang menginjak 17 tahun ini aku telah beristrikan dia. Ya, dia yang telah terlanjur masuk ke dalam ranah mimpiku.

***

Shevana dipersilahkan duduk. Meja makan itu lain dari yang lain. Bentuknya segi tiga sama kaki. Keningnya kembali berkerut, alis kananya mulai terangkat penasaran apa yang dia pikirkan tentang sebuah meja. Ia  duduk disisi kiri. Kedua sisi meja itu dibiarkan kosong, tidak ada kursi disana. Mungkin itu untuk menjaga perasaanku kalau dia masih belum bisa menemuiku.Pikirnya.

 Tibalah seorang pelayan yang membawa sepiring makanan khas Eropa.  Entah apa nama dari makanan itu. Ia sendiri pun tidak tau.

“Ini adalah Bienenstitch…..” Pelayan itu menjelaskan seputar makanan yang ia sajikan.

Tak pedulilah itu apa, bagaimana proses pembuatannya, yang pasti saat ini ia kecewa. Sebal. Ia mengira akan duduk dan menghabiskan makan malam bersama laki-laki tampan itu. Bola matanya mengitari setiap sudut ruangan yang tampang lengang. Sementara, pelayan-pelayan itu terus saja menyuguhi makanan dan minuman khas Eropa. Belum sempat ia menghabiskan makanannya, dengan sengaja pelayan yang lainnya mengambil makanan itu dengan sopan, lalu dibawanya kedapur.

“Eh?” Shevana menatap tak percaya.

 Mereka hanya memberikan waktu tidak lebih dari 1 menit untuk Shevana mengunyah hidangan. Keterlaluan. Pikir Shevana.  Sialnya Shevana masih lapar. Ah ada apa dengan perutku ini?.

Makan malam pun telah usai. Meskipun ia kecewa karena penggugah jiwanya tidak disana ia tetap yakin laki-laki tampan itu akan datang. Pelayan wanita setengah baya menyadari perubahan raut wajah Shevana, dengan ramah meraih tangan Shevana yang terkulai lemas.  Melangkah masuk mengajak Shevana menuju kamarnya. Dengan hati-hati pelayan wanita setengah baya itu membuka pintu. Ah, lihatlah wajah merona Shevana kian terlihat jelas membakar gelora hatinya. Tercium aroma menyengat dibilik kamar. Rupanya bau itu berasal dari obat nyamuk bakar berbau bunga lavender. What? Apalagi ini?. Ia semakin dibuat terheran-heran.

“Selamat beristirahat nyonya” tutur pelayan setengah baya itu.

Shevana mengangguk.

Sepatunya berdecit pelan. Pelan sekali dibarengi dengan mata yang asik melihat-lihat. Kamarnya sangat luas, namun hanya diisi dengan tempat tidur yang terbilang sederhana. Tidak, tidak, bukan tempat tidur yang umum digunakan selayaknya pasangan pengantin, tapi sebuah tempat tidur yang populer di lingkungan asrama.



Tempat tidur bertingkat dua terduduk disudut kamar bersentuhan dengan dinding bercat abu-abu. Lagi-lagi dan lagi Shevana mengerutkan kening.

“Pemandangan konyol apalagi ini?” desisnya.

Ia melirik kearah kaca yang dibiarkan terbuka. Sehingga ia dapat melihat langsung kerlap-kerlip lampion taman dengan jelas. Lebar kaca itu seukuran dengan layar bioskop. Sungguh.

“Huaaa…” matanya takjup.

Shevana mendekat ke arah kaca mengamati lamat-lamat. Dibalik kaca itu memperlihatkan keindahan pohon maple yang sewaktu-waktu diterpa angin, dibalik sela-sela daun dan ranting senantiasa memancarkan kilau cahaya rembulan. Satu dua daunnya berguguran ditanah. Ia terpejam. Menghirup udara malam. Ia terpukau dengan keindahan. Hanya saja ia merasa aneh. Shevana sempat menebak kalau laki-laki tampan itu tengah menunggunya. Tebakannya meleset. Jelas laki-laki tampan itu tidak ada.

“Impian baru apa? Heh?! Aku malah terjebak dipernikahan konyol ini. pckkk!” Ia mengangkat kedua bibir dengan arah berlawanan, memamerkan gigi kelincinya.

Ia membiarkan tubuhnya terkapar. Meluruskan tulang punggung yang kian merengek kelelahan. Ia pun terlelap.

***

Plip!

Kaca selebar layar bioskop itu secara otomatis berganti gambar menjadi sebuah pemandangan yang tidak asing baginya. Sebuah bangunan pondok pesantren dimana ia dulu pernah singgah. Tepat jam tujuh pagi ia terbangun menyeka mata, mengikat rambut sebahunya. Ia mengerjap-ngerjap, dengan malas ia memaksakan diri untuk beranjak.

“Loh kok ada meja?” langkahnya terhenti.

Seperti yang dikatakan tadi ruangan kamar utama ini semalam hanya berisi sebuah tempat tidur. Ia mendekat kearah meja. Didapati sebuah note book tergeletak diatas meja begitu saja. Tangannya mulai meraih, membuka halaman pertama yang bertuliskan…

Shevana Ferdian Louis kini lo gak bias lari! 




Entah sebuah ancaman atau apa yang pasti Shevana dengan santai mengacuhkan tulisan yang dianggap tidak penting itu.

“What?! Heh! Dia gak tahu apa kalau ibuku dengan cepat akan menyayat habis tubuhnya.” Ia menyeringai.

Bersambung…

#KMP2SMI

#ODOPBACHT7

#KOMPUNITASODOP

Jumat, 13 September 2019

Novel Remaja Akhir-Dewasa Awal



Episode 4 :
Apa yang terjadi dengan Shevana didalam sana? Masih setia ia tatap punggunggnya yang kian menjauh dibalik celah pintu. Kenapa aku tidak menanyakan namanya? Sebuah penyesalan yang mungkin akan bersatu padu dengan larutan kebahagiaan yang ia dapatkan beberapa menit lalu.

Bagi perempuan lain mungkin kejadian seperti itu bukanlah suatu hal yang istimewa. Namun, bagi Shevana seorang remaja yang tengah menikmati masa sweet seventeen ini kali pertamanya ia merasakan getaran cinta yang begitu dahsyat. Sungguh ia masih tabu dalam hal itu. Karena, tak pernah sekalipun ia bersentuhan dengan teman laki-lakinya apalagi hanya untuk sekedar pacaran.

Selang beberapa menit, setelah proses penjamuan tamu,  keluarga laki-laki itu pun pamit.  Satu persatu bersalaman. Namun, Shevana tidak melihat laki-laki tampan itu berpamitan. Kemana perginya? Tanya Shevana dalam hati.

Tanpa sadar ia tersenyum-senyum sendiri. Laki-laki itu benar-benar membuatnya mencair, menggenang dalam wadah yang tenang. Kadang terombang-ambing dalam lautan romansa. Ia jatuh cinta. Benar-benar dibuat gila.

***

Ketika malam mempersilahkan siang untuk menggantikan posisinya. Mataharipun bergeser tanpa ragu.

Tid…tid…!

Jeritan klakson membuat jantunngnya semakin berdebar.

Ia mengintip dari balik jendela kamar memastikan.

“Fyuuuh…syukurlah bukan itu.” Ia kembali terduduk.

Begitu hati-hati Shevana memilih pakaian yang akan dikenakan, tampil dengan balutan busana yang diharap membuat keluarganya terkesan. Ia kembali tersenyum. Aku yakin aku dapat menemukan impianku yang baru.

Tok..tok..tok…!

“Sheva…Sheva…” Panggil ibunya sedikit berlari.

“Iya bu?”

“Cepetan siap-siap bentar lagi Pak Septo datang.” Ibunya kegirangan.

Jantungnya semakin berdebar hebat. Tegang, gugup, dan malu membuat tangannya berkeringat.

“Permisi.” Sahut seseorang dibalik pintu gerbang rumahnya.

“Nah itu dia.” Ibu antusias menyambutnya.

Gadis itu terperanjat. Perasaannya semakin tak karuan. Tanpa hentinya mondar-mandir memikirkan ia akan tinggal seatap dengan laki-laki tampan itu, menghabiskan setengah waktu senggang, bercengkrama manja meluapkan suka duka. Semut hitam pun sudah bosan, bermuka masam melihat tingkahnya. Ya, tingkahnya seperti anak remaja yang tengah dilanda asmara. 

                Toyota Fortune melesat jauh. Membawa Shevana menuju sebuah istana yang mungkin saja adalah istana impiannya. Beratapkan kedamaian, berdinding kepercayaan, berlantai kejujuran. Persepsinya. Sepanjang jalan Pak Septo memberikan arahan- arahan yang harus ia lakukan ketika ia tinggal dirumah itu. Ia tidak mendengarkan dengan seksama setiap kalimat yang keluar dari mulut Pak Septo. Ia mengabaikannya. Hati dan pikirannya sibuk membayangkan wajah tampan itu.

Diujung jalan terlihat orang-orang berpakaian serba hitam membukakan gerbang utama untuk menyambut kedatangan gadis itu. Perasaan takut ikut bercengkrama dengan otaknya, memberitahu sebuah prasangka yang membuat ia menggelengkan kepala. Jangan-jangan ibu menjulaku? Demi apapun aku tak menyadari hal itu. Kalau pun benar, oh tolonglah siapapun yang mendengar rintihanku tolonglah. Matanya terpejam. Tangannya mengepal.

Cahaya mentari menyilaukan mata yang sedari tadi sibuk mengamati,  mengerjap-ngerjap hingga akhirnya membuka mata untuk menelisik keadaan. Dibawanya gadis itu ke sebuah rumah megah dengan design interior yang bernuasa Eropa. Tidak hanya itu rupaya disudut taman terdapat sebuah pohon Mapel yang tumbuh dengan cantik nan indah melengkapi taman. Sungguh, ini memang salah satu impiannya sejak dulu. Shevana menabak-nebak kalau laki-laki tampan itu mungkin saja penggemar rahasianya. Ia tertawa geli.   Terima kasih suamiku. Ucapnya dalam hati. Tersipu malu.

Pintu mobil terbuka. Ia pun dipersilahkan untuk melihat-lihat. Ini sungguh nyata. Rumah impian yang selama ini hanya bisa ia simpan di book note dengan sekejap ia meraih mimpinya.   



Persis seperti apa yang ia inginkan. Atapnya berbentuk kerucut, dinding yang lebih terlihat seperti tabung dilengkapi dengan jendela-jendela yang tampak menghiasi dinding, serta cerobong asap yang tak mau kalah memamerkan diri.

“Nyonya Shevana mari silahkan masuk.” Ajak salah satu pelayan dirumah tersebut dan dengan rela hati membawa semua bawaannya.

Ia tersenyum. Shevana kembali diajak untuk berkeliling ke setiap sudut ruangan.

Pintu utama mulai terbuka. Disambut hangat oleh dua orang pelayan wanita dengan rambut dicepol indah.  Tiba-tiba saja raut wajahnya berubah. Keningnya mengerut, kedua alisnya beradu. Tidak semewah yang ia bayangkan. Bahkan terkesan sederhana, lebih sederhana dari rumahnya. Ia tertarik untuk memasuki sebuah ruang kecil yang hanya bisa dimasuki dua orang. Itupun kalau orangnya memiliki bobot badan dibawah 50 kg. Ia masuk dengan hati-hati membuka segel pintu ruangan itu, ternyata hanya ada satu kursi yang menjereng didepan komputer era 60-an. Ia terheran-heran. Pemandangan yang kontras jika dilihat dari luar.

Bersambung…
*Jangan lewatkan episode 1,2,3 nya ya kak hiiii (Memamerkan deretan gigi)

#KMP2SMI

#ODOPBACTH7

#KomunitasOdop


ULASAN CERITA PENDEK KAMAR MANDI MERTUA A.    ORIENTASI Cerita pendek yang berjudul Kamar Mandi Mertua merupakan maha karya yang ...