Tampilkan postingan dengan label Karya Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Karya Sastra. Tampilkan semua postingan

Selasa, 24 September 2019


NURANI MANA YANG SUDAH TIDAK BERFUNGSI?

Rakyat miskin nyatanya tetap dianggap  rendah di mata orang yang sejak lahir hidup di bawah gemerlapnya singgasana dunia. Meskipun derajatnya sudah diangkat sejajar dengan mereka bahkan lebih tinggi, semua takkan pernah bisa dengan mudah menerima. Tak ada yang patut disalahkan ketika terlahir dari keluarga miskin.  Kita telah menyaksikan pribadi yang selalu menerapkan sikap rendah hati. Dialah sosok yang amat dibenci oleh mereka yang berusaha menggulingkan posisi. Buka mata siapa yang merancang semua ini?

Apakah orang miskin tak pantas menjadi pemimpin? Begitu gengsikah dipimpin oleh seseorang yang masa lalunya terjerat kemiskinan ekonomi? Sehingga dengan rela hati berkeringat darah sepanjang hari. Membuat kekacauan dan menumpahkan kesalahan.  Sungguh amat disayangkan. Bersiasat kotor hanya untuk meraih mimpi yang tak kunjung menepi.

Mereka tak pernah tahu bagaimana perihnya hidup di atap kemiskinan, beralaskan penderitaan. Hujatan dan cercaan seolah menu rutin sejak pagi. Jilatan kemiskinan akan terasa manis jika menambahkan bumbu syukur dan sabar dalam sajian kehidupan.  Beruntunglah bagi mereka yang memiliki kekuatan hati sanubari. 

Orang baik dianggap munafik, orang munafik dikagumi. Begitu kejamnya kehidupan duniawi. Berbagai berita bohong digencarkan demi meraup pembelaan, berbagai perkara disebarluaskan berharap agar dia disalahkan. Ketika sebuah janji itu berusaha ia tepati, mereka memalingkan wajah tanpa sekejap melirik. Selalu menyalahkan tanpa ikut memperbaiki, malah mengatur siasat kembali. Perkara alam saja tetap ia yang disalahkan. Ia bukanlah Tuhan yang menghendaki segala urusan. Jika memang ia terbukti, seharusnya membuat kita semakin sadar bahwa dia memang manusia biasa yang diberikan kekurangan dan kelebihan. 
Kebaikan seribu akan tertutupi oleh keburukan yang satu. Manusia kadang terpeleset dengan pemikirannya sendiri, menganggap segala hal yang benar berdasarkan pandangannya dianggap sah untuk menghakimi meskipun menuai banyak kontroversi. Serba salah sepertinya diksi yang cocok untuk menggambarkan situasi.    

Kekacauan yang semakin terlihat, khawatir dimanfaatkan oleh segelintir orang  sebagai bentuk gerakan penggulingan. Pelantikan tinggal menghitung hari, wajar huru-hara perebutan posisi bersaing tanpa henti. Jika nanti sosok rendah hati itu berpulang pada Sang Illahi, barulah mereka tenang tanpa batas tepi.

Masalah akan selalu hadir. Kita tinggal memilih saja, menjadi pembuat masalah atau pemecah masalah? 

#KMP2SMI

#KOMUNITASODOP

#ODOPBACTH7

           


Minggu, 22 September 2019




Sahabat Cangkang II

Sahabat itu bukan dia yang sering minta jajan, tapi dia yang sering memberikan motivasi dan uluran tangan. Bukan dia yang selalu menertawakan kita didepan banyak orang apalagi ngerumpi dibelakang. Jika kalian menemukan salah satu dari ketiganya, percayalah bukan dia. Bukan dia. Kalian akan mengerti alasanku mengatakan semua hal itu setelah kalian paham akan ku.

Pada masa apa kalian benar-benar menemukan sahabat? Kuliah? SMA? SMP? atau SD? Jawablah dengan hati kalian sendiri. Dari keempat masa itu aku benci persahabatan masa kuliah. Kehidupanku terkesan membosankan dan menjengkelkan.  Tiap hari pasti saja ada alasan untuk diperdebatkan. Sahabat macam apa yang tidak merasakan suka duka yang dialami oleh sahabatnya? Sahabat macam apa yang sering membuat sahabatnya selalu menumpahkan air mata akibat ulahnya? Selalu membandingkan aku dengan sahabat lamanya. Mungkin bagi dia, posisiku akan diakui sebagai sahabatnya jika aku bereinkarnasi menjadi mesin ATM atau Bank. Keterlaluan.

Ia selalu berlaga so asyik didepan semua orang dan bersikap sebaliknya kepadaku. Acuh_tak mau tahu. Ia bercerita banyak hal dengan diiringi gelak tawa tapi bukan selagi bersamaku. Ia tak sekalipun mengatakan sebuah kaimat penyemangat untuku, sekalipun aku bercerita begitu riang tentang semua harapan dan target-target yang berhasil aku capai. Tetap saja mulutnya terkunci rapat.          

Berapa lama lagi ia akan membungkam mulut? Tergerogoti oleh  iri hati yang tak dapat dibendung lagi. Egois yang tinggi menerkam kerendahan hati. Haruskah aku kembali merangkulmu setelah beberapa hari ini kau palingkan aku? Sahabat? Tidak ada sahabat sekarang semua terasas asing bagiku. Menyebalkan.

Aku tak tahan. Ia pikir semua orang selalu menerima dan memahami sikapnya? Tidak. Aku menyerah untuk berharap menjadi sahabatnya. Membiarkan ia terombang-ambing dalam lautan kesombongan. Namun, ketika ia terjatuh, melihatnya menangis tersedu untuk pertamakali, hatiku merasa perih, air mataku larut bersama kesedihan yang ikut menyelimuti. Ku dekap hangat tubuh mungil yang tertunduk itu. Jauh direlung hati ini mengatakan aku ingin bersahabat dengannya, namun apa dikata kita mulai tak saling bicara. Aku hanyalah sebuah cangkang yang suatu saat akan dilepaskan.

Ini adalah curahku, kalian bebas berpandangan. 

#KMP2SMI

#KOMUNITASODOP

#ODOPBACTH7

Sabtu, 21 September 2019

CERPEN


Cinta 5%

Plak!!! tamparan dahsyat mengejutkan Lutfi yang sedang asyik bercengkrama dengan kekasih barunya dikursi taman.

"Dasar Playboy!"  seorang perempuan cantik menampar begitu keras. Lutfi terbelalak. Banyak pasang mata  memerhatikan. Berdiri menatap penasaran.

"Asal lu tau aja ya, Si Kaprut ini tuh cowok gua!" menunjuk ke arah perempuan disamping Lutfi yang hendak membetulkan posisi duduk.

"Lu bener-bener gak punya hati tau gak!" salah satu temannya membela. Lutfi terdiam.

"Bener yang dikatakan dia?" perempuan disamping Lutfi bertanya dengan suara sedikit tercekat. Lutfi menelan ludah. Ia memutar otak untuk mencari alasan yang tepat.

"Enggak bep. Dia tuh mantan aku." Lutfi membela diri.
"What? mantan?!" Sela melotot.

"Wah gak bisa dibiarin nih." Sela memalingkan wajah. Tanpa pikir panjang Sela menjambak rambut Lutfi. Tubuhnya dihujani pukulan bertubi-tubi.

Sela memang terkenal dengan pukulannya yang bisa meruntuhkan susunan tulang manusia. 'Gadis besi'. Begitulah teman se-kampus menyebutnya. Tak heran jika ia hebat dalam pertarungan sekalipun. Dengan susah payah Lutfi menjelaskan. Namun, tak ada yang mendengar. Semakin banyak kalimat yang diungkapkan_semakin membuat amarah dua perempuan itu meledak. Lagi-lagi ia tidak berhasil membela diri. Orang-orang tertawa menyaksikan kejadian itu. Perasaan malu Lutfi lebih mendalam dibanding rasa sakitnya. Lutfi mencari jalan agar bisa lolos dari cengkraman mereka.

"Oke. Oke. Gua jelasin. Kalian tenang dulu oke." Lutfi berusaha menenangkan. Lutfi terdiam_dadanya naik turun tak karuan.  

"Gua tuh sebenernya..." Tanpa melanjutkan kalimat selanjutnya_dengan cepat Lutfi berhasil lari. Mereka mengejar. Lutfi menambah kecepatan.

Dilihatnya kerumunan orang yang hendak melaksanakan shalat dzuhur_ di Mesjid An-Nur. Tanpa ragu lagi ia pun masuk. Namun, ia tidak menuju ke barisan laki-laki. Dengan sengaja ia mengenakan mukena yang tergeletak dibarisan perempuan paling belakang. Untung saja saat itu para Jemaah sedang mengambil air wudhu ia bisa leluasa memakainya. Setidaknya ia bisa mengelabui perempuan-perempuan yang dilanda kemarahan itu. Lutfi menghela napas lega.

"Fyuh…gila tu cewek sadis amat. Bisa penyok muka gua." Dengan napas sedikit tersenggal. Lutfi membenarkan posisi duduknya agar tampak seperti kaum perempuan yang lainnya. Dari arah belakang terdengar langkah pelan menghampiri.

"Maaf mbak itu mukena saya" seorang perempuan berhijab dengan sopan meminta. Dengan cepat Lutfi menoleh.

"Perempuan gila itu masih ada gak mbak?" tanya Lutfi cemas.
"Astagfirullahaladzim!" Perempuan itu terkejut.

"Yaelah malah istighfar. Dikira gua setan apa. Nih mukenanya." Tanpa permisi Lutfi beranjak. Perempuan itu mengangguk ragu. Raut wajahnya menyisakan keterkejutan yang luar biasa mengetahui bahwa ia seorang laki-laki.

Esok hari. Lutfi berkumpul bersama temannya ditempat biasa. Sebuah kedai kopi yang lumayan jauh dari kampusnya. Berkali-kali ia bolos kuliah. Ia hanya sibuk mencari wanita untuk dipacari. Kapan kebiasaan buruk Lutfi akan berakhir? Entahlah. Sudah hampir 6 tahun kuliah S1 nya tak kunjung usai. Ayahnya yang seorang Hakim harus menanggung malu.

"Kayaknya lu butuh bini. Biar idup lu rapi. Haha..." salah satu temannya menyarankan.

"Somplak lu! Kuliah aja gak tuntas-tuntas gua."

"Mau sampe kapan? sampe kakek gua bangkit dari alam kubur?." cela Beni.

"Gimana mau tuntas. Di otaknya cewek mulu." Sandi menambahkan. Menggelegarlah tawa mereka.

"Lu pada gak usah munafik. Eh lu pasang telinga bae-bae ya. Pacar itu sama dengan musik. Tanpa musik lu gimana? Sunyi, hening bro gak seru. Bener kan gua?"

"Tapi cewek lu kebanyakan"

"Cuma 5 doang gak banyak kali. Eh lu liat dong tampang gua seganteng siapa? Charlie put aja dibawah standar gua." Menunjuk ke arah wajahnya yang masih lebam. Temannya hanya tertawa kecil.

"Asal lu tau aja ya shalat wajib aja ada 5. Pancasila juga 5. Nah, itu. Wajib juga hukumnya orang ganteng kayak gua punya pacar 5. Ia gak? Haha..." Lutfi tertawa puas.

Mereka saling menatap. Beno mengerutkan dahi. Sandi menepuk jidat. Diangkatnya bahu sebagai tanda rasa tidak mau tahu.

Dua minggu kemudian.

Sore itu matahari benar-benar kalah bersaing dengan hujan. Mengguyur begitu derasnya seperti ditumpahkan. Semesta pun ikut serta merasakan keganasan petir yang menyambar. Angin pun tak mau kalah. Menerobos masuk kesetiap pori-pori tubuh seorang perempuan berhijab yang tengah berdiri didepan perpustakaan_menunggu hujan reda. Ia mendengus pelan dan melipatkan tangan. Dilihat jam tangan putih miliknya menunjukan pukul 17:45. WIB. Ia tidak bisa menunggu lebih lama. Dengan terpaksa ia melangkahkan kaki hendak mencari angkutan umum. Namun, belum lama ia berjalan dihadapannya terlihat Lutfi mengangguk-ngangguk mendengarkan musik diponselnya. Sesekali ia menggerakan tubuhnya mengikuti irama. Perempuan itu tertawa geli. Lewat tanpa melirik Lutfi sambil memegang jilbabnya yang berkali-kali diterpa angin.

"Woi Mbak." Panggil Lutfi.

Perempuan itu menoleh. Lutfi terpesona melihat kecantikannya. Bola mata yang hitam legam terpasang begitu indah dengan pipi kemerah-merahan.

"Ya salam cantiknya." Lutfi terperanga.

Perempuan berhijab itu menoleh.

"I..i..ini…gantungan kuncinya jatuh." Kata Lutfi gugup sambil menyodorkan gantungan kunci yang bertuliskan I love Allah. Dengan ragu perempuan itu mengambilnya.

"Terimakasih." Jawabnya santun.

"Iya mbak sama-sama." Lutfi menggoreskan senyuman maut andalan untuk menggaet hati wanita yang menjadi targetnya.

"Saya permisi. Assalamualaikum." Perempuan itu melangkah pergi.

"Eh mbak! Namanya siapa?"

Tak ada jawaban. Perempuan itu masuk kedalam angkutan umum. Lutfi menunjuk ke arah perempuan itu.

"Itu? Kayaknya gua pernah liat."

Diacaknya rambut yang basah kuyup terkena hujan.
"Hemmm...kayaknya saran si Beni oke juga. Gua harus punya bini. Nah, perempuan itu akan gua jadiin istri pertama. Kalau gua mau poligami pasti diizinin. Solehah kan dia. Haha..." Lutfi tertawa licik.

15 menit kemudian ia sampai dirumah. Berganti pakaian_mengangkat  ponselnya _mencari informasi tentang perempuan itu. Usahanya gagal. Tak ada yang mengetahui siapa perempuan itu.

"Gua harus cari langsung."

Semangat 45. Itulah yang dirasakan Lutfi. Menancap gas mobil_ mencari dengan teliti. Usahanya berhasil. Ia menemukan perempuan itu disebuah kostan putri hendak membeli sate. Mengenakan jilbab biru tua dengan dress panjang melekat ditubuhnya yang ramping. Lutfi menghampiri.

"Hay." sapa Lutfi sumringah.  Menampilkan sisi so ganteng dengan tangan yang masih didalam saku. Perempuan itu tersenyum lembut. Temannya menyikut memberikan kode pertanyaan.

"Em anu gua...eh maksud saya…saya mau minta maaf." Lutfi tersenyum.
"Untuk apa?"

"Kejadian  tempo hari itu"

Perempuan itu menebak-nebak.

"Dimesjid, mukena…ya itu." Lutfi mulai canggung.

"Em...itu iya gak papa." Jawab perempuan itu singkat.

"Sekali lagi gua minta maaf." Lutfi menyodorkan tangan bermaksud untuk bersalaman. Perempuan itu menyambut salamannya tanpa bersentuhan. Lutfi menjadi salah tingkah.

"Em…BTW nama kamu siapa?"

"Nama saya..." belum selesai menjawab Ibu kost memanggil. Menyuruhnya untuk segera masuk.

"Maaf. Permisi. Assalamualaikum." Sambil menutup pagar.

"Hem? Eh…eh…tapi..tapi..arrgh sial!" Lutfi membanting kaleng dengan keras.

Setelah pertemuan singkat itu Lutfi tak pernah lagi menjumpai perempuan itu. Ia semakin tertarik dan penasaran. Berhari-hari Lutfi mencari keberadaannya. Karena, terlalu sibuk mencari perempuan itu Lutfi tidak lagi memerhatikan ke-5 pacarnya itu. Entah berapa ribu panggilan. Lutfi tak peduli. Belakangan ini Lutfi sering mengunjungi mesjid An-Nur. Ia sangat malu atas kejadian waktu itu.

"Bodoh!" Lutfi menyalahkan diri.

Beberapa orang ditanyainya. Tapi, tak kunjung menemukan jawaban. Ibarat kutu boleh ditelisik. Rasa penasaran itu berubah menjadi cinta_sebuah cinta yang menggila. Entah berapa ribu orang ditanyai.

Lima bulan lamanya ia terus menanti kehadiran pujaan hati. Bayang-bayang sepanjang badai. Ia tidak bisa melupakan perempuan itu.

"kakak nyari siapa sih? Tiap hati kesini" tanya gadis kecil mengejutkan Lutfi.

"Kakak sedang mencari bidadari berhijab."

Gadis kecil itu memasang raut wajah kebingungan.

"Huooo...itu soal gampang kak, syaratnya kakak harus meninggal dulu. Baru deh ketemu." Gadis kecil itu menyarankan.

"Yaelah ni bocah. Kakak lagi nyari perempuan cantik, solehah yang sering shalat disini. Ditasnya ada gantungan kunci bertuliskan 'I love Allah' adek tau gak?"

"Oh." Jawabnya singkat.

"Eh dasar lu bocah ya. Buang waktu aja." Lutfi melangkah pergi.

"Aku tau kok dimana kakak itu"

Lutfi berbalik kembali menghampiri gadis kecil itu.

"Adek manis tau?"

"Tau"

"Dimana?"

"Gak mau ngasih tau"

"Loh? Kenapa?"

"Kakak orang jahat. "

"Ya salam ni bocah bener-bener ya." Lutfi memalingkah wajah.

"Oke adek manis yang cantik kakak minta maaf. Nah, sekarang dimana dia? ayo katakan nanti kakak beliin ice cream mau kan?"

"Gak mau! Bosen!"

"Hah? Ssyiit" Lutfi kesal.

"Aku akan kasih alamatnya kalo kakak bisa baca doa sebelum tidur"

"Hah? Yaelah haha...Eh dek ngeledek?"

"Enggak, ayo baca"

"Iya iya. Allahu...ma..laka..laka..sumtu...kelanjutannya apa ya? lupa gua"

"Udah kak jangan dilanjutin".

"Kenapa?"

"Doanya salah."

"Hah? Cape-cape gua mikir salah."

"Hemh...ya udah ini alamatnya." Tangan kecilnya mulai menulis.

Gadis itu memberikan alamat kepada Lutfi. Dengan cepat Lutfi menjalankan mesinnya. Dua Jam berlalu, tetapi ia belum menemukan titik temu.

Semilir angin timur seolah-olah memberikan isyarat untuk menunjukan keberadaan perempuan itu. Dilihatnya sebuah bangunan sekolah dasar yang belum usai, jendela-jendela yang masih tanpa kaca, pintu-pintu belum terpasang, lantai yang masih beralaskan tanah. Langkah kakinya terdorong untuk masuk ke dalam ruangan kelas yang tampak lengang. Ia terduduk lesu. Luthfi menyerah.

"Ya Tuhan sesulit inikah? Gua cuma mau tau namanya aja susahnya minta ampun dah. Apalagi ketemunya? Badan gua udah ringsek gini juga. Please Tuhan bantu gua. Gua janji dah gua bakalan tobat kalo gua berhasil dapetin tu cewek." secara spontan lutfi mengucapkan kalimat itu. Tangannya memukul dinding yang kokoh.

"Assalamualaikum. Permisi.Ada yang bisa saya bantu?"

Dengan cepat Lutfi menoleh. Ia terkejut melihat perempuan yang dicarinya berdiri tegak disamping. Dengan sigap ia berkata. Berdiri dengan percaya diri.

"Aku ingin melamarmu."

Perempuan itu mengerutkan dahi. Perempuan itu terdiam sejenak.

"Aku bukanlah orang yang setia dalam satu cinta" Jawabnya lembut.

Lutfi melongo.

Ia tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Masa cewek solehah doyan poligami?" Gerutunya.

"Gua bersedia dipoliandri ." Jawab Lutfi sigap.

Perempuan itu tersenyum.

Yaelah...tadinya kan gua yang mau poligami, ini? Malah gua. Ucap Lutfi dalam hati.

"Maksud cinta saya terbagi-bagi yaitu, cinta untuk Rasulullah, cinta untuk Al-Qur'an, cinta untuk orangtua saya, Hanya sekitar 5% untuk hamba-Nya. Karena, cinta kepada Allahlah yang tak bisa saya bagi dengan apapun dan siapapun."
Jawab perempuan itu dengan penuh keyakinan. Lutfi tercengang, tertunduk malu.

"Kalo gitu kita ta'arufan aja. Ayolah gua akan berubah demi lu. Lu bakalan beruntung dapetin cowok setampan gua."

"Datanglah kerumahku, bicaralah pada ayahku" kata perempuan itu.

"Oke" Lutfi mengikuti langkahnya dari belakang.

Tidak membutuhkan waktu lama sampailah Lutfi dirumah perempuan itu.

"Silahkan duduk" Perempuan itu mempersilahkan Lutfi duduk dikursi luar. Perempuan itu hendak memanggil ayahnya.

"Gua mesti ngomong apa sama bapaknya? Gua kan mau nikah sama anaknya, kenapa mesti ngomong sama bapaknya dulu?"

"Ohok..ohok..."batuk ayah perempuan itu mengejutkan Lutfi.

"Ada perlu apa nak?"

Lutfi menoleh. Menatap sosok didepannya.

"Oh my god dosen pembimbing gua." Lutfi keceplosan.

"Kenapa nak Lutfi?"

"Em hehe..enggak pak ah sibapak" Lutfi berusaha mencairkan suasana.

"Denger-dengen nak Lutfi ini mau ngelamar putri bapak begitu?"

"Ohok..ohok.." Lutfi terbatuk.

"Rupanya batuk saya menular ya"

"Enggak pak. Em hehe...i..i..iya pak saya ma..ma..u ngelamar putri bapak" jawab Lutfi gugup.

"Boleh saja" jawab ayah perempuan itu santai.

"Serius pak? yeah! Bapak memang tidak salah pilih mantu pak. Choise is true pak. Haha..." wajah pongahnya kembali bersinar.

"Tapi..."

Tawa Lutfi terhenti.

"Loh kok pake tapi segala Pak? Pak saya bisa bahagiain anak bapak dengan uang saya. Tenang aja."

"Bahagia tidak selamanya bisa didapatkan dengan uang Lutfi"

"Lalu? Saya mau ta'aruf Pak bukan pacaran"

"Sebelum berta'aruf dengan putri saya, sudahkah nak Lutfi berta'aruf

dengan Allah?"  

"Oh itu si udah Pak. Hehe"

Ayahnya menghela napas.

"Saya akan terima kamu sebagai menantu saya jika..."

"Ya ampun pak ada syaratnya?" Lutfi memotong perkataan dosennya itu.

"Saya akan terima kamu menjadi menantu saya jika kamu sudah lulus S3"

"Hah?! S3? ya ampun Pak…Pak.. ketuaan kali Pak"  

"Shalatmu, sikapmu dan sekolahmu nak Lutfi" jawab ayah perempuan itu bijak.

Lutfi tidak bisa berkata lagi. Ia tertunduk. Usahanya kali ini tidak berhasil. Dibalik kaca jendela_tidak sengaja ia melihat foto wisuda perempuan itu, bertuliskan 'Sabila Raudhatul Jannah' lulusan terbaik universitas Al-Ahzar Kairo. Akhirnya, Lutfi mengetahui nama pujaan hatinya itu. Lutfi tertunduk malu. Ia menyadari betapa bodohnya ia selama ini. Lutfi semakin bertekad untuk berubah demi cinta yang ingin dimilikinya.

#KMP2SMI

#KOMUNITASODOP

#ODOPBACTH7

Jumat, 20 September 2019

Puisi Bertema Cinta Rakyat pada Pemimpin


Cinta Anak Tukang Kayu
Karya : Selvi Febriani

Tuan-tuan bersender manis penuh gemerlap

Berbadan dosa berlengan hilap

Walau terasa sesak nan senyap

Tetap saja mau diperbudak

Serakah kuasa mengajak



Menyembunyikan realita

Melemparkan dosa

Pada dia yang dituntut tahu segala

Agar dunia menghakimi dan menghujat

Mengemis bela pada rakyat 



Mata lelahmu bertutur

Tulang keringmu bekerja setiap waktu

Namun masih saja ada yang menumpahkan semua salah padamu

Sedang ku tau dirimu hanya mencoba melerai petir abu-abu


Ku tau kau begitu bimbang memutuskan

Pikirmu tak pernah padam

Matamu tak pernah terpejam

Sementara rakyat mulai berkoar

Sepakat dan menentang



Semua kacau balau ditumpahkan

Menuntut keadilan

Bukan berarti ia tidak berupaya

Ketika takdir sudah berkata

Ia pun bisa apa



Tak pernah secuil pun hatiku membencimu

Meskipun berjuta orang mencoba menggoyah rasaku

Percuma saja mereka takkan mampu

Karena kau adalah motivatorku



Aku mencintaimu jauh sebelum kau dilantik        

Jabatanmu sama sekali tak pernah kulirik

Apapun posisimu saat ini atau nanti

Kisahmu tetap melekat hati  



#KMP2SMI
#KOMUNITASODOP
#ODOPBACTH7

Senin, 16 September 2019

Novel remaja Awal-Dewasa Akhir


Episode 6 :
Hari kedua disajikan benda persegi panjang mengisi ruangan. Sebuah lemari baju plastik empat pintu berukuran sedang. Ternyata note book itu masih disana. Kali ini note book nya terbuka.


Tunggu saja
  



Ia menggeleng. Meletakan kembali tanpa ada rasa ingin tahu yang berlebih. Bergegas untuk siap-siap kesekolah setelah satu hari absen. Gelisah. Ia tak berhasil menenangkan jiwa. Pikirannya berkelut dalam ingatan yang sulit ia terima. Ia khawatir kabar mengenai pernikahannya akan tersebar luas. Ia terlanjur berkata tak ingin menikah muda.

Selepas mengenakan seragam SMA ia berjalan mengamati diri dipantulan kaca meskipun pantulannya pudar. Menyebalkan. Karena tidak ada cermin disana. Merapihkan rok panjang yang menyentuh tungkai kaki,  mengancingkan lengan baju, dan menyematkan jilbab yang setia melekat hangat.

“Fyuuhh…tenang Shevana oke kamu bisa tenang. Melangkah seperti biasa. Fyuuhh…” Tarikan napas yang membuatnya turun naik.

Ada hal yang ia tidak sadari. Bahwa sekarang ia adalah bagian dari keluarga konglomerat. Ketika ia mulai menuruni tangga. Sontak ia dibuat kaget oleh wanita tua berumur yang ditemuinya sore itu.

“Good Morning menantuku” garis kerutan itu semakin tampak ketika ia tersenyum.

Ia hanya mengangguk.

“Sarapan dulu sayang” sambil mencium kening Shevana.

Shevana terenyuh. Ia disambut hangat untuk yang kedua kalinya oleh sang mertua. Air matanya berlinang menahan haru.

“Gadis bermata elang” Sambungnya sambil menatap Shevana. Merangkulnya dan membiarkan tangannya digusur halus oleh sang mertua menuju meja makan yang disajikan sepiring Brötchen.



Roti yang dijadikan sebagai salah satu menu sarapan khas Jerman. Berukuran kecil bertekstur renyah diluar lembut didalam. Sarapan yang tak biasa bagi Shevana. Bagi kebanyakan orang Indonesia yang terbiasa makan bubur, lontong sayur akan terasa kurang jika sarapan hanya menyantap secuil roti saja. Begitu pun dengan Shevana.

 “Gadis baik” Ujar sang mertua.

Ia tersenyum dengan malu menyantap roti. Itulah Shevana ia akan menjadi sosok pendiam ketika berurusan dengan orang yang lebih tua darinya.

“Jangan dulu sekolah, kamu harus banyak belajar disini.”

Shevana tersedak.

Belajar? Maksudnya apa? Aku juga harus belajar untuk persiapan UAMBN. Oh tidak. Gerutunya dalam hati.

“Kamu harus belajar menjadi anggota keluarga kami Shevana.”

Kehidupan Shevana akan berubah dalam waktu singkat. Wajar saja ia sekarang adalah anggota keluarga terpandang. Satu hal yang ingin ia tanyakan kenapa harus ada pernikahan yang terkesan tertutup itu? Kenapa semua terjadi secara tiba-tiba? Ia semakin kesal.

“Mungkin seminggu saja cukup untuk melatihmu”

“Se…se..minggu?” dengan gugup ia bertanya.

“Kenapa sayang? Oke kalau kamu tidak siap dua minggu Momi rasa cukup.”

Ia terguncang.

“Em baiklah se..se..minggu saja nyonya, eh…maksudku Mo…mi..” Ia terbata-bata.

“Namun kamu harus memenuhi salah satu syarat untuk menjadi anggota keluarga kami” ia menoleh.

“Ba..baiklah…” Lidah yang terbiasa menurut kepada Ibunya.

“Kamu harus siap untuk menanggalkan jilbab Shevana”

Hatinya terkonyak. Wajah merona Shevana berubah menjadi merah padam. Ia tak terima.
Bersambung…


#KMP2SMI

#OODOPBACTH7

#KOMUNITASODOP

Minggu, 15 September 2019

Cerpen



Isak Lukisan Bunda

Tubuh mungilnya menggigil. Tangan kecilnya mulai keriput. Ia mengigit bibir bawahnya dengan keras. Basah kuyup. Bagaimana tidak, ia hanya mengenakan kaos tipis lengan pendek berwarna biru cerah yang sejak pagi  setia melekat. Gagal menahan air hujan yang merambat kesetiap pori-pori tubuhnya.

            “Huaaaaahh…udah jam berapa ya? Huaah…” Tanpa rasa malu mulutnya terbuka lebar.

“Aduh ngantuk banget” gadis polos situ bergumam.

 Jemari kecilnya kembali meraih mantel plastik yang tergeletak sempurna ditrotoar. Sebuah mantel yang terbuat dari potongan plastik warna-warni yang dijahit sembarang. Ia mendesah. Tak mau memakai. Lebih baik basah terkena air hujan daripada harus menggunakan mantel plastik norak buatan bunda. Pikirnya. Berkali-kali ia minta dibelikan sebuah payung kepada sang ibunda, namun ibunda tetap menolak.  Akhirnya mau tak mau karena hujan yang kian mengamuk. Dengan malas ia mengeratkan mantel plastik itu sambil berlari kecil ke sela-sela deretan mobil yang terjebak macet disepanjang jalan pusaran kota, menjajakan satu dua lukisan berukuran A4 karya lama sang ibunda.

            “Permisi lukisannya om tante” suaranya terdengar sedikit parau.

Tak ada balasan dibalik mobil mewah itu. Dengan acuh mengabaikan kehadiran gadis polos  yang sedari tadi menunggu secercah harapan dibalik pintu. Ia melangkah kederetan mobil sebelahnya.

            “Permisi lukisannya om tante”

Ia nampak senang. Diturunkan kaca mobil itu setengahnya oleh seorang ibu-ibu bermake up tebal dengan gaya bicaranya yang terkesan menjengkelkan.

            “Eh anak kecil! Minggir! Uh mobil saya jadi bau kan kena baju lusuh kamu. mantel plastik apalagi yang kamu pake ieeuuh! Udah-udah nih” melemparkan uang lima ribu kepada gadis polos itu.

“Ish kecil-kecil udah jadi pengemis” desisnya pelan. 

Gadis polos itu menatap tidak mengerti.

“Tante tante ini uangnya kurang. Lukisan bunda saya harganya lima puluh ribu”

“Eh ini apaan sih?! Udah ya ambil aja uangnya. Lagian siapa juga yang mau beli lukisan jelek kayak gitu. Udah pak ayo jalan.” Ibu-ibu itu memerintahkan sopirnya untuk terus merayap diatas beceknya aspal.

“Tante lihat dulu tante, lihat dulu lukisan bunda saya. Lukisan bunda ini tidak akan rusak meskipun terkena air hujan. Lukisan plastik anti basah tante…tante…tante…“ mobil itu terus merayap ditengah kemacetan yang padat. 

Langit siang tak hentinya meringis, meluapkan emosi yang kian buncah.  Gadis polos itu terlihat putus asa. Ia melipir  ke sebuah toko buku. Setiba didepan pintu, langkahnya menjauh, menyadari kondisi tubuhnya yang tidak memungkinkan untuk masuk. Terlebih ia mengenakan mantel plastik yang menjadi olokan renyah teman-temannya. Gadis polos itu mengurungkan niat.

“Nak! Nak! Sini lah. Mau kemana?” Tanya seorang laki-laki setengah baya berkumis tipis tanpa melangkah keluar karena tercegat oleh guyuran hujan.

Gadis itu menoleh. Menatapnya dingin. Ia meneruskan langkahnya.

“Nak tunggulah sebentar!” laki-laki setengah baya itu mengejar ia yang tak kunjung menghentikan langkahnya.

“Ya Allah nak cepatnya langkamhu. Sampai-sampai setengah hari saya mengejar” Ia tersenyum memuji.

“Tidak mungkin. Masa dari situ kesini sampe setengah hari. Pembohong huuuu” gadis polos itu mengerucutkan bibir.

“Hehe. Iya deh maaf paman bohong.”

“Ada apa?”

“Kamu gak kasihan apa sama paman, paman kehujanan nih. Boleh gak paman  minjem mantel plastiknya?”

“Ih gak boleh dong inikan buatan bunda. Gak mau!”

“Kenapa tadi paman  lihat kamu membuang mantel plastiknya hayo.”

“Bukannya dibuang, aku hanya menaruhnya sebentar. “ Ia berbohong.

Laki-laki setengah baya itu tertawa kecil.

“Ia deh aku gak akan buang lagi”

“Nah, gitu dong. Sekarang kamu mau kemana?”

“Biasa”

Ia tahu maksud perkataan si gadis polos. Laki-laki setengah baya  itu selalu mengamatinya dari jauh, bukan maksud apa-apa ia hanya mengkhawatirkan keadaan anak mantan kekasihnya itu. Ya, laki-laki setengah baya itu sempat menjalin cinta dengan ibu gadis polos itu. Namun, ia bukanlah ayah kandungnya. Entahlah, semua terjadi begitu saja.

 Langit siang kini memancarkan kilau cayahaya dibalik gulungan awan yang menghitam. Meskipun nampak cahaya, tetap saja guyuran hujan tak mau dikalahkan. Setelah mengumpulkan energi, gadis polos itu kembali berteriak menjajakan lukisan plastik anti basah karya ibunya.  

“Permisi lukisannya om” gadis polos itu menawarkan lukisan kepada laki-laki muda dengan perawakannya yang gagah, tengah asik melukiskan kemacetan kota.

Gadis itu mengintip dari balik kaca mobilnya.

“Wuiihh ngelukis om? Dimobil kok ngelukis sih om?” kepalanya celingkukan sambil sedikit berjalan mengikuti laju mobil.

Laki-laki muda itu terganggu konsentrasinya. Ia melirik kearah kaca.

“Argh! Siapa pula ini. ” sambil membuka kaca mobil.

“Ada apa?” Tanya laki-laki itu.

“Enggak om. Saya hanya heran kenapa om malah ngelukis?”

“Prinsip hidup “ Jawabnya. Matanya beralih pandang ke sebuah lukisan yang belum laku terjual.

“Lihat lukisannya.” Pintanya.

Tanpa banyak omong, gadis itu langsung memberikan lukisannya. Laki-laki itu terkejut, napasnya tercekat. Seketika ia turun dari mobil memangku gadis kecil itu dan melangkahkan kaki keluar dari zona macet. Entah apa yang ia pikirkan, ia meninggalkan mobilnya begitu saja. Ia tidak mempedulikan ocehan pengendara lain. Terlalu egosi memang.

“Mana ibu kamu? biarkan saya menemuinya!”

Gadis polos itu mengangguk pelan tanpa heran. Tidak membutuhkan waktu lama mereka sudah sampai disebuah kontrakan kecil berukuran enam kali empat diujung gang. Gadis itu mengucapkan salam dan memberitahu ibunya akan kedatangan laki-laki itu. Ibunya menghampiri.

“Mas Adrian” Ibunya terkejut. Dadanya terguncang hebat.

Adrian adalah murid les Reina. Ibu gadis polos itu. Adrian SMA adalah seorang remaja yang memiliki bakat melukis yang luar biasa sehingga membuat Reina jatuh hati kepadanya. Adrian pun sama. Kenyamanan yang diberikan oleh Reina berhasil merangkul jiwanya. Reina tidak hanya berperan sebagai guru bagi Adrian, melainkan sebagai sosok istimewa sekaligus cinta pertamanya. Namun sayang, karena terpaut usia yang jauh orang tua mereka tidak setuju dengan hubungannya. Mereka pun akhirnya memutuskan untuk menikah tanpa restu dari pihak keduanya. Baru saja dua bulan menikah, Adrian memutuskan kembali kerumah orang tuanya. Ia dikabari atas berita yang memilukan tentang kematian ibunya yang diduga bunuh diri akibat ulahnya sendiri. Selepas itu Adrian tak pernah menampakan batang hidungnya kepada Reina.    

“Maafkan saya Ren. Saya hilap. Maafkan saya. Ternyata kamu masih menyimpan lukisan itu. Maafkan saya” suaranya parau. Ia tertunduk. Seketika air matanya pecah. Tak kuasa menahan emosi yang kian menyeruak. Ia tersendat-sendat.

“Inikah anak kita Ren?” Tanya Andrian.

Ibu gadis polos itu mengangguk pelan.

Laki-laki itu memeluk erat tubuh mungil gadis kecil itu.

“Maafkan papah…maafkan papah…maafkan papah..” Keduanya terisak. Gadis polos itu pun mengerti.

Gadis polos itu namanya Tantia. Seorang gadis kecil berusia kurang dari sembilan tahun berbalut mantel plastik basah yang menjajakan lukisan karya ibunya, berusaha meraup rejeki ditengah macet total pusaran kota yang secara kebetulan berhasil mempertemukan ia dengan ayah kandungnya.

#KMP2SMI

#ODOPBACHT7

#KOMUNITASODOP

ULASAN CERITA PENDEK KAMAR MANDI MERTUA A.    ORIENTASI Cerita pendek yang berjudul Kamar Mandi Mertua merupakan maha karya yang ...