Senin, 07 Oktober 2019


Menjaring Waktu
EPISODE 3 :
Cukup dengan tatapan Wiky, Nela pun menurut. Karena, Wiky adalah cinta pertama Nela. Tidak peduli seberapa banyak selingkuhannya, ia tetap mencintai sosok remaja yang memiliki ketampanan bak aktor korea itu. Di hati Nela hanya ada Wiky, Wiky dan Wiky. Entah apa yang membuatnya tergila-gila. Satria hitam itu melaju dengan cepat.

“Lo mau bawa gue kemana?” Tanya Nela penasaran.

“Gak usah banyak bacot”

“Lo jangan egois Wik. Gue masih ada acara sama temen-temen gue”

Tak ada jawaban. Wiky menambah kecepatan lajunya. Mereka mulai menyusuri pesisir pantai yang nampak sepi.

Dua puluh menit berlalu, akhirnya Wiky memarkirkan motor.

“Maksud lo apa bawa gue ke hutan belantara gini? Lo mau bunuh gue?”

“Iya kalo gue niat”

“Saraf lu!” Sambil memukul kepala Wiky.

Nela resah, ia bingung harus berbuat apa. Ia terus memikirkan hal buruk menimpanya. Imaginasinya melayang membayangkan tubuh mungil yang diseret, dikuliti atau bahkan dimutilasi oleh Wiky.

Argh…!!! Kalau kayak gini bisa jadi arwah gentayangan gue. Ucapnya dalam hati. Ia berusaha menepis pikiran itu.

“Woy bengong aja lu” Sahut Wiky sambil memainkan pisaunya.

Sontak Nela kaget.

“Ma…a…a…u…nga…pain lo!” Nela semakin ketakutan.

“Gue disini bang!” teriak Wiky kepada dua orang laki-laki dengan perawakannya yang kekar.

“Mereka siapa Wiky?” bisik Nela.

Namun, lagi-lagi Wiky tidak menjawab.

“Widih…makin keren aja lu bang” sapa Wiky.

“Gak usah basa-basi. Mana barangnya?” tanya laki-laki itu.

“Et dah. Santai aja lah bang. Nih barangnya” Wiky melirik kearah Nela.

“Lu yakin barangnya asli?”

“Asli lah bang. Cobain aja” sambil menyerahkan pisau kepada laki-laki itu.

“Sialan! Lu mau jual gue?” tanya Nela kesal.

Wiky hanya tersenyum.

“ Kalo lu berani macem-macem. Kelar idup lo!” sambil menarik tanagn Nela dengan kasar dan menyeretnya.  Nela meronta. Tapi percuma saja, usahanya sia-sia. Nela semakin gelisah pikirannya tak karuan.

“ Wiky lo manfaatin gue?!”

“ Lu bakalan aman, kalo lu gak banyak tingkah!”

Dari arah belakang laki-laki itu melingkarkan tangannya dileher Nela. Nafasnya tercekat, tubuhnya bergetar hebat ketika tangan laki-laki itu mulai mengangkat pisaunya dan sreeet…!!!

“Aaa…!!!” Jerit Nela.

Suara itu berasal dari tas selempang Nela. Laki-laki itu merobek tasnya. Ternyata ia hanya menginginkan barang haram yang ada di dalam tas Nela. Dengan kasar laki-laki itu mendorongnya. Ia terjatuh. Tanpa meliriknya lagi, kedua laki-laki itu melangkah pergi.

“ Woy! Balikin!” teriak Nela.

Nela terkulai lemas. Isak tangisnya membuat Wiky tak tahan lagi mendengarnya. Ia pun merangkulnya.

“ Udah ah jangan lebay dong Yang” Goda Wiky sambil mengacak rambut Nela.

“Maksud lo apa? Manfaatin gue?”

“ Candaan gue asik ya?”

“Wiky!” Bentak Nela.

“ Haha…lo itu ngegemesin ya kalo lagi ketakutan tadi” celetuk Wiky berusaha mencairkan suasana.

“ Wiky!!!” bentak Nela semakin murka.

“Apa?”

“ Tu barang mau dipake sama anak-anak”

“Buat nambah stamina saat tawuran?” Ejek Wiky.

“Lo tu ngeselin bangte ya”

“ Tapi sayang kan? Hehe…”

“ Udah deh. Jelasin mereka tuh siapa?”

“ Temen”

“ Ada urusan apa?”

“Cuma silaturahmi”

“ Wiky! Gue serius!”

“Gue enggak” Wiky tersenyum.

“Gak ngaruh ya ngomong sama lo” dengan kesal Nela beranjak pergi.

“ Kemana?”

“Markas!”    

“Ya udah gue anterin” Sambil menarik tangan Nela menyuruhnya menaiki motornya. Sepanjang perjalanan pikiran Nela dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Ia bingung harus bagaimana berhadapan dengan bos dan teman-temannya.

Semua ini gara-gara Wiky. Gerutunya dalam hati.

 Dengan sengaja Wiky membawa motornya sangat pelan. Sehingga membuat Nela semakin kesal. Ia terus saja mengganggu Nela dengan tingkah jailnya. Mulai dari ngegas secara tiba-tiba, membawa motor seolah-olah bannya kempes, hingga pura-pura kehabisan bensin dan Wiky menyuruh Nela mendorong motornya.

“Lo bener-bener pengen gue mati ya?”

“Mereka tuh yang mau mati” Dari kejauhan Wiky menunjuk kearah sekelompok siswa SMK yang sedang tawuran.

#KMP2SMI

#KOMUNITASODOP

#ODOPBACTH7

#DAY29

Minggu, 06 Oktober 2019



Menjaring Waktu

Episode 2 :

Keesokan harinya. Kamis, 30 Mei 2013 pelulusan SMPN 1 Talaga.

Secepat kilat Nela mempersiapkan diri. Tak peduli sesakit apa lukanya ia tetap bersemangat.

“Pelulusan…pelulusan…pelulusan…yeah!” Kata Nela sambil berlari menghampiri Beat Merah kesayangannya.

“Mah berangkat yah!” Teriak Nela.

“ Tadi malam kamu ngajikan?”            

“Iya mah” Nela berbohong.

“ Kapan mama bisa datang ke sekolah?”

“Liat aja disuratnya mah” Sambil menjalankan motornya.

Beat Merah itu melaju dengan kecepatan sedang namun, tidak menuju ke sekolah. Nela membawa Bear Merah itu berbelok kearah kiri.

Tid…! Tid…! Tid…!!!

Suara klakson itu membuat Nela kehilangan keseimbangan.

“Woy! Kampret lu!” Teriak Nela.

“Hehe…canda dikit” Jawab Riko tanpa rasa bersalah.

“Mau ikut gak lu bareng anak-anak?” Sambungnya.

“ Iyalah”

Nela kembali menancap gasnya menuju sebuah gubuk tua. Mereka biasa menyebutnya Gubas. Tempat dimana mereka bisa melakukan banyak hal dengan bebas. Tentu, tak ada istilah satuan terpisah antara laki-laki dan perempuan disana.

Sesampainnya di Gubas, yang Nela dapati hanyalah motor bebek yang sedari tadi menunggu kehadiran pemiliknya.

“Bang? Oy! Pada di mana si?”

Hening. Tak ada seorangpun yang menjawab.

“ Ah sial gue ditinggalin” Sambil menyalakan mesin motornya.

Nela bergegas ke rumah Yuka yang jaraknya tidak jauh dari Gubas. Tidak membutuhkan waktu lama Nela sampai dirumah Yuka.

“Wiiih…udah nongol aja lu” Kata Yuka sambil mengikat tali sepatunya.

“Cepetan!”

“Iya iya ish…” Yuka mendengus kesal.

 Mereka pun pergi menuju bengkel om Toto. Benar saja temannya yang lain sudah menunggunya dari tadi.

Kacau. Itulah suasana yang tergambar disana. Para remaja itu sudah kehilangan etika seorang pelajar. Beramai-ramai menyulut rokok. Seragam SMP yang mereka kenakan kini tidak lagi berwarna putih biru, melainkan berubah menjadi berbagai macam warna. Coretan tanda tangan menjadi karya seni tersendiri, yang bagi mereka suatu kebanggaan memilikinya. Mirisnya lagi mereka menggunting rok mereka hingga diatas lutut. Gaul. Hanya kata itu yang selalu melekat dalam pikiran mereka. Merekapun tidak melewatkan hal penting. Mereka asyik bergaya mengambil gambar,  padahal surat kelulusan belum sampai ke tangan mereka. Belum pasti apakah diantara mereka ada yang lulus, kelulusannya ditangguhkan, atau bahka tidak lulus. Mereka tidak mempedulikan hal itu. Yang mereka tau pelulusan itu adalah hari kebebasan. Urusan sekolah biarlah orang tua yang atur.

Ketika mereka sudah mencapai tingkai kepuasa. Masing-masing menjalankan mesinnya dan melakukan konvoi sambil mengibarkan bendera yang bertuliskan “Devil Army”. Jalanan yang masih terlihat sepi, kini dipadati oleh para remaja yang haus akan kesenangan. Bagai lebah kehilangan sarangnya. Ramai, rebut, gaduh. Belum lagi tingkah laku mereka yang semena-mena mengambil ruas jalan.

Ditengah kegaduhan itu dari arah yang berlawanan Wiky menghampiri Nela yang berboncengan dengan Riko. Sontak Riko langsung mengerem motornya.

“ Lu udah gak waras ya!” Sahut Riko. Diiringi dengan desas- desus yang lainnya.

Dengan sigap Wiky meraih tangan Nela berusaha membuatnya turun dari motor Riko.

“I love you” Bisiknya.   

Nela terpaku. Memasang raut wajah penuh kebingungan. 

“Woy! Mau jalan gak nih?!” Teriak seseorang yang mereka dewa-kan.

Iring-iringan motor itu kembali melaju dengan kencang.

“Naik” Ajak Wiky.

“Kemana?” Tanya Nela.





#KMP2SMI

#ODOPBACTH7

#KOMUNITASODOP

#DAY28

Sabtu, 05 Oktober 2019


Menjaring Waktu

Episode 1 :

Seorang gadis tengah duduk termenung menatap cahaya yang perlahan tenggelam dilaut lepas. Ia berfikir bahwa hal yang sama akan terjadi padanya. Kematian. Itulah yang sangat ia takutkan. Ia menghela napas panjang. Ia memajukan posisi tubuhnya lebih dekat dengan muara Cikasele. Sebuah tempat wisata yang tidak begitu ramai dikunjungi oleh wisatawan.

Lembayung senja mulai menyisir wajahnya. Terlukisakan mata yang teduh dengan tahi lalat disudut kanan matanya. Garis hidung yang membentuk sudut 45 ˚ serta bibir tipisnya yang mengungkap rahasia terbesar dalam sejarah hidupnya. Meskiun usianya baru menginjak 15 tahun, namun pengalamannya dalam dunia Narkoba tidak diragukan lagi. Sabu-sabu, putaw, heroin dan jenis barang haram lainnya telah ia jajakan. Pengedar. Mungkin itu sebutan yang cocok untuknya.

“Woy kenapa lu?” Tanya seorang laki-laki berambut ikal sebahu.

“Paan si lu! Ganggu aja!” jawab Nela ketus.

“Lu sentiment amat. Kenapa si?”

“Mati tuh ngeri ya”  Ucap Nela sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.

 Ya kali. Gue kan masih idup”

“Gue takut” lirih Nela.

Laki-laki itu tidak berkomentar, ia sibuk dengan botol minumannya.

“Eh adzan jam berapa ya?” Tanya Nela.

“Haha…buset dah sejak kapan lu peduli sama adzan?” Ejek laki-laki itu.

“Rese lu!” sambil beranjak pergi.

“Kemana lu?”

“ Nyari mesjid”

“ Gila aja lu. Masjid di sini tuh udah dijadiin tempat mesum! Haha…” Gelak tawanya menguras emosi Nela.

“Eh kalo ngomong tuh jangan asal mangap!” Jawab Nela.

Tanpa menghiraukannya lagi, gadis itu menyusuri setiap area perumahan pesisir pantai. Memang benar, ada satu masjid di daerah tersebut yang sudah tidak layak dijadikan sebagai tempat ibadah. Bangunannya terlihat usang, kotor tak terawat. Masjid itu kini telah dialihfungsikan menjadi tempat tongkrongan remaja-remaja di bawah pengaruh narkoba. Sunggu ironis. Perkembangan zaman yang semakin hari merenggut keta’atan, kehormatan, dan budaya yang kental akan tradisi nenek moyang perlahan mulai lenyap.

Sebuah lagu berjudul Mavia Devil yang liriknya  tidak untuk diucapkan oleh seorang muslim meramaikan suasana. Gemuruh suara vokalis itu menggema hingga cakrawala. Diikuti gerak-gerik remaja yang tengah asyik melakukan mossing. Dalam pengaruh narkoba tentu saja tidak ada sakit yang terasa.

“ Ko si Nela mana?” Tanya Wiky kepada Riko yang asyik berjoget.

“ Hah?! Lu ngomong apa?”

“Si Nela kemana?!” Wiky menaikan volume suaranya.

“Lah? Lu kan cowoknya. Mana gue tau”

“ Arghh…sialan!” Sambil beranjak.

“ Lu cari si Nela?” Tanya bang Jo. Begitulah mereka menyebut laki-laki berambut ikal sebahu itu.

“Dia lagi sujud kali” Sambungnya.

“Maksud lu si Nela shalat?”

“Ya kali gak Cuy…haha…” Ejek bang Jo.

“Sialan!”

Dengan sorot matanya yang tajam ia mencari keberadaan Nela. Sesampainnya disana tampaklah Nela dengan wajah yang lebam, darah segar mengalir dipelipis matanya. Dia menjadi bahan bulian yang empuk remaja-remaja yang sering nongkrong di masjid itu. Sepasang mata menatap dengan penuh kebencian. Nela berharap Wiky datang membela dan membawanya pulang. Namun, Wiky tak peduli. Nela menatap punggung yang hilang dibalik kerumunan orang.

Bersambung

#KMP2SMI

#ODOPBACTH7

#KOMUNITASODOP

#DAY27

Jumat, 04 Oktober 2019


Legenda Situ Bagendit



Tulisan ini telah dibukukan.

#KMP2SMI

#ODOPBACTH7

#KOMUNITASODOP

#TANTANGANPEKAN4

#IMPROVISASICERITARAKYAT

#AdaptasiCeritaLegendaSituBagendit

#DAY26




Kamis, 03 Oktober 2019



Goresan Penantang Narkoba


Narkoba masih menjadi primadona bagi orang-orang yang tengah dicumbu derita. Ada banyak hal lain yang membuatnya semakin diburu oleh mereka. Ya, mereka sang penikmat dosa. Dibalik melimpahnya harta, tingginya kedudukan dan jabatan tersimpan cerita yang membuatku terperangah. Tidak percaya. Kali ini kau menang karena mereka lebih memilihmu dibanding goresanku, kau hebat dalam menaburkan candu kehancuran, kau sukses membuat penikmatmu melayang bebas di ranah halusinasinya sendiri, kau bahkan sukses membuat pengedar laknat itu menjadi jutawan.

Untuk kau yang saat ini tengah berkeliaran bebas. Harap bersiap-siap. Aku akan datang menghadang. Akan aku buktikan goresanku akan mengalahkanmu, imaginasiku akan menghancurkan candumu. Kau tenang-tenang saja dulu, dengan begitu aku akan menyelinap masuk kedalam pikiran penikmatmu.

Aku tidak sendiri, aku lahir ditangan seorang wanita muda yang gemar menyentuhku dengan alat-alat andalanya sedari dulu. Pensil, spidol, drawing pen, kuas, pensil warna, crayon, cat air serta sketch book adalah alat-alat yang sering wanita muda itu gunakan untuk membuatku. Akan aku alihkan perhatian dan pikiran mereka yang tengah dicumbu derita itu kepadaku, meluapkan emosinya kepadaku, membiarkan imaginasinya berkeliaran bebas hingga dapat menghasilkan sebuah karya bukan menyebabkan terkurung dipenjara atau terkubur dialam baka.

Aku selalu berhasil membuat wanita muda itu tersenyum bangkit saat ia terjatuh, saat ia benar-benar terjebak dalam zona lingkar merah yang membuatnya terhenti tak tau arah. Aku pun berhasil membuat orang-orang disekitar wanita muda itu mendapatkan kebahagiaan yang serupa. Aku berharap akan ada lebih dari ribuan bahkan jutaan orang yang menjadikanku sebagai teman yang siap menampung lembar derita. Tumpahkan dan luapkanlah semua.  Aku yakin, semua orang dapat membuatku. Pemikiran yang salah jika kau mengatakan “Aku tidak bisa menggambar” kau melupakan goresan karyamu di masa Sekolah Dasar. Ketika gurumu meminta untuk membuat peta, membuat lukisan alam dan lainnya. Aku telah hadir melalui pensil di tangan kecilmu. Apakah itu kurang membuktikan kalau kau diberikan potensi untuk membuatku?

Aku tidak menuntut hasil karyamu setingkat dengan pelukis-pelukis terkenal itu. Kalaupun kau tetap tidak mau membuatku, warnailah aku. Kekanak-kanakan? Siapa bilang. Banyak pelukis diluaran sana yang menghasilkan pundi-pundi uang dan menjadi jutawan berhasil menyaingi para pengedar itu bahkan lebih dari apa yang kita tau. Jika kau tidak percaya goresanku dapat menenangkan hati dan pikiranmu, buktikan dan tanyakan saja kepada wanita muda yang lebih jauh mengenalku. Selvi Febriani. Dialah wanita muda penggugah rinduku.



#KMP2SMI

#ODOPBACTH7

#KOMUNITASODOP

Rabu, 02 Oktober 2019


GALERI ANAK TUKANG KAYU

Episode 2 :
Di pertigaan jalan terlihat silau mata kendaraan roda empat membuat laju legenda ayahku semakin kencang. Berusaha mencegat elf merah maroon. Supir elf melirik ke arah spion, memerhatikan legenda tua ayahku yang kewalahan mengejar, akhirnya supir elf itu pun menginjak rem.  Syukurlah. Legenda tua ayahku memang bisa diandalkan.  

            “Ke kota?” Tanya supir elf sambil membantu membawa kardus miliku.

            Aku mengangguk.

“Yo naek!” teriaknya girang.

Selagi aku sibuk mencari tempat duduk yang nyaman, ayah memarkirkan legenda tua miliknya di salah satu rumah warga yang pintunya masih tertutup rapat. Pintu-pintu rumah akan terbuka jika matahari sudah terasa hangatnya.

“Assalamualaikum…Assalamualakum… Kang Iwan nitip motor” teriak ayah meminta izin pemilik rumah.

 Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Rupanya itu adalah kang Iwan. Samar-samar kudengar perbincangan keduanya, kang Iwan menanyakan seputar pendidikan yang saat ini akan kutempuh.

Kang hayu!” ajak sopir elf.

            “Siap pir” jawab ayah. Langkah kakinya sedikit berlari.

            “Di sini Ma” tanganku menepuk jok mobil yang sedari tadi menunggu kehadiran Ayah.

            Mesin berdesing begitu gagahnya, aroma bensin tercium begitu menyengat. Saat ini belum terasa pengap karena sesaknya penumpang, mungkin satu atau dua jam lagi muatan elf ini akan melampaui kapasitas.  Anak sekolah, para buruh, dan penumpang lain masih bertahan dalam sesaknya angkutan umum.

            Sepanjang jalan, pikirku tertinggal di tanah kelahiran. Sukmaku masih bersama hangatnya langit pedesaan, jauh dari kekejaman langit ibu kota. Kebun karet yang berjejer kini tergantikan oleh gedung-gedung pencakar langit, menyuguhkan senyum sinis seraya berkata “Selamat datang di ibu kota anak desa”. Sungguh nyaliku menciut. Aku tak yakin akan bisa dengan mudah beradaptasi di lingkungan baru. Tak hentinya aku memanjatkan doa, memohon kasih sayang-Nya.

            Tujuh jam perjalanan membuat otot-ototku lelah. Merengek tak sabar. Berharap segera merebah. Bayang-bayang tanah kelahiran seketika terhempaskan oleh ketakjupan.

            Singkat cerita aku sudah sampai di Yayasan yang memintaku untuk mengajar al-Qur’an. Subhannallah. Decak kagum bertaburan dalam aliran darahku. Menancap hati yang gundah.

            Tolaal badru alaina…minsaniyatil wada’….wa jaba…syukru alaina…mada’al lillahida’…” serentak anak-anak kecil usia Sekolah Dasar (SD) menyambut hangat kedatanganku.

            “Assalamualaikum Ustadzah Nafisah” dengan langkah anggun mendekat, bersalaman, merangkul tulus. Sontak aku pun membalas rangkulannya. Tak lupa melontarkan senyuman. Ayah tersenyum haru merenung nasibku. Terlihat getar bibir yang senantiasa mengucap syukur.    

            Ustadzah? Ya Allah benarkan panggilan ini pantas dengan pribadiku yang jauh dari teladan? Air mataku kembali buncah.

Bersambung…

#KMP2SMI

#ODOPBACTH7

#KOMUNITASODOP

#DAY24

Selasa, 01 Oktober 2019


GALERI ANAK TUKANG KAYU

Fajar masih malu-malu menampakan diri di ufuk timur.  Kumandang adzan telah usai lima menit lalu. Satu dua kokokan ayam terdengar tanpa kantuk. Ruang tengah beralaskan papan kayu jati yang masih lengang disulap menjadi ruang shalat. Bukan maksud apa-apa ini karena istana kami masih setengah jadi. Permasalahan ekonomi masih setia mengikat keluarga kami. Beruntung beberapa tahun lalu aku masih merasakan serba kecukupan, jauh dari keadaan yang sekarang. Dua sejadah biru navi tergelar rapi mengajak kehusyu’an. Satu menjadi imam dan yang satu menjadi makmum. Sang imam mengakhiri shalat dengan salam. Dia adalah ayahku.

Kali ini ada yang berbeda dengan raut wajah ayahku ketika memohon doa. Kulirik sejenak wajah lelah yang tengah menitikan air mata. Cukup lama Ayah menengadah memanjatkan doa begitu khusyu’. Sementara fokusku buyar karena tercium aroma telor ceplok mengisi ruangan.

Neng sarapan dulu!” teriak Ibu.

“Iya Mah” spontan aku menjawab meskipun sedang berdoa.

Ayahku pun mengakhiri doanya. Aku mendekat meraih, mencium lembut punggung tangannya. Hatiku teriris ketika bibirku menyentuh permukaan kulitnya yang  kasar. Wajar saja, karena Ayahku bekerja sebagai tukang kayu. Seketika air mataku buncah. Memohon maaf dan meminta restu akan keberangkatanku. Hatiku campur aduk, antara senang dan gelisah. Semoga ini adalah pilihan yang tepat. Setelah gagal daftar di beberapa Universitas impian. Akhirnya Allah memberikan jalan yang membuat beban keluargaku tidak begitu berat. Aku ditawari beasiswa di Perguruan Tinggi Swasta dengan syarat mengajar al-Qur’an di salah satu Yayasan yang sudah berdiri satu abad lamanya. Sebuah Yayasan yang senantiasa melahirkan lulusan-lulusan yang berkualitas. Kabarnya.   

Ayah memang bukan tipikal orang tua yang rewel dengan masa depan anaknya. Ia selalu memberikan kebebasan dalam menentukan pilihan hidup selama itu baik bagiku. Selama hidupku bersentuhan dengan al-Qur’an, mendekap hangat al-Qur’an, ayahku akan dengan mudah mengizinkan.

Ma, Eneng mau berangkat, doakan Eneng ya Ma

Aku memanggil ayahku dengan sebutan Mama. Tanpa huruf H diujung kata ketika di baca. Mama adalah panggilan khas daerahku. Sebuah panggilan yang sering digunakan untuk memanggil tokoh-tokoh ulama. Kenapa aku memanggilnya Mama padahal Ayahku bukanlah seorang ulama? Mungkin beberapa orang menanyakan hal ini. Itu adalah sebuah bentuk penghormatan kepada orang tua. Memuliakan seorang Ayah yang telah mengurusi dan menjaga anaknya.

Kesunyian terganggu oleh segukanku yang tiada henti. Ayah pun larut dalam tangis. Merangkul, mengusap kepala dengan tulus. Ayah tidak berkata banyak. Ia hanya menitipkan pesan untuk tetap menjaga al-Qur’an.

Neng cepetan udah siang! Nanti ketinggalan mobil!” teriak Ibu dari dapur.

“Iya Mah sebentar pake kerudung dulu”

            Aku menuruni tangga yang terbuat dari kayu. Ya, rumahku berlantai dua namun jauh dari kata mewah. Hidup di bantaran sungai memaksa kami untuk membangun rumah berlantai dua. Jaga-jaga jika air sungai meluap, masih ada tempat untuk bermalam. Lantai bawah sengaja di kosongkan untuk menaruh karya-karya Ayahku. Impian membuat galeri mebel selalu terngiang dalam benaknya. Sungguh hatiku pilu.

            Aku menghampiri Ibu yang tengah menyendokan nasi untuku.

            “Gak papa Mah, biar aku aja” tanganku mencegah.

            “Ah, sudahlah duduk saja”

Aku menurut. Disediakan pula segelas teh jahe untuk menghangatkan badan. Ibu memang begitu pengertian. Ia bahkan menyetrika baju yang akan aku kenakan selagi aku sibuk di kamar mandi. Aku begitu malu karena dulu sikapku tidak begitu baik padanya. Aku bahkan membencinya. Karena, ia telah mengambil posisi ibu kandungku yang tujuh tahun lalu berpulang menuju alam peristirahatan.  

Ayah menghidupkan Legenda andalannya. Cepat-cepat aku menghabiskan suapan dan meneguk air hangat.

Neng hayu  ajak ayah.

“Iya Ma” sambil memboyong bawaan dan berpamitan.

“Hati-hati ya Neng. Semoga selamat” suaranya terdengar berat. Terlihat air mata tertahan menggenang. Tak sempat aku berpamitan kepada kedua adiku yang tertidur pulas.  

“Mah” air mataku kembali buncah tak tertahan. Kupeluk erat punggung kurus itu. Bahuku terasa basah oleh derai air mata Ibu.  

Langit masih biru navi, fajar belum begitu menyinar terang. Hanya lampu senter yang menunjukan jalan.

Bersambung…

#KMP2SMI

#ODOPBACTH7

#KOMUNITASODOP

#DAY23

ULASAN CERITA PENDEK KAMAR MANDI MERTUA A.    ORIENTASI Cerita pendek yang berjudul Kamar Mandi Mertua merupakan maha karya yang ...