Jumat, 04 Oktober 2019


Legenda Situ Bagendit



Tulisan ini telah dibukukan.

#KMP2SMI

#ODOPBACTH7

#KOMUNITASODOP

#TANTANGANPEKAN4

#IMPROVISASICERITARAKYAT

#AdaptasiCeritaLegendaSituBagendit

#DAY26




Kamis, 03 Oktober 2019



Goresan Penantang Narkoba


Narkoba masih menjadi primadona bagi orang-orang yang tengah dicumbu derita. Ada banyak hal lain yang membuatnya semakin diburu oleh mereka. Ya, mereka sang penikmat dosa. Dibalik melimpahnya harta, tingginya kedudukan dan jabatan tersimpan cerita yang membuatku terperangah. Tidak percaya. Kali ini kau menang karena mereka lebih memilihmu dibanding goresanku, kau hebat dalam menaburkan candu kehancuran, kau sukses membuat penikmatmu melayang bebas di ranah halusinasinya sendiri, kau bahkan sukses membuat pengedar laknat itu menjadi jutawan.

Untuk kau yang saat ini tengah berkeliaran bebas. Harap bersiap-siap. Aku akan datang menghadang. Akan aku buktikan goresanku akan mengalahkanmu, imaginasiku akan menghancurkan candumu. Kau tenang-tenang saja dulu, dengan begitu aku akan menyelinap masuk kedalam pikiran penikmatmu.

Aku tidak sendiri, aku lahir ditangan seorang wanita muda yang gemar menyentuhku dengan alat-alat andalanya sedari dulu. Pensil, spidol, drawing pen, kuas, pensil warna, crayon, cat air serta sketch book adalah alat-alat yang sering wanita muda itu gunakan untuk membuatku. Akan aku alihkan perhatian dan pikiran mereka yang tengah dicumbu derita itu kepadaku, meluapkan emosinya kepadaku, membiarkan imaginasinya berkeliaran bebas hingga dapat menghasilkan sebuah karya bukan menyebabkan terkurung dipenjara atau terkubur dialam baka.

Aku selalu berhasil membuat wanita muda itu tersenyum bangkit saat ia terjatuh, saat ia benar-benar terjebak dalam zona lingkar merah yang membuatnya terhenti tak tau arah. Aku pun berhasil membuat orang-orang disekitar wanita muda itu mendapatkan kebahagiaan yang serupa. Aku berharap akan ada lebih dari ribuan bahkan jutaan orang yang menjadikanku sebagai teman yang siap menampung lembar derita. Tumpahkan dan luapkanlah semua.  Aku yakin, semua orang dapat membuatku. Pemikiran yang salah jika kau mengatakan “Aku tidak bisa menggambar” kau melupakan goresan karyamu di masa Sekolah Dasar. Ketika gurumu meminta untuk membuat peta, membuat lukisan alam dan lainnya. Aku telah hadir melalui pensil di tangan kecilmu. Apakah itu kurang membuktikan kalau kau diberikan potensi untuk membuatku?

Aku tidak menuntut hasil karyamu setingkat dengan pelukis-pelukis terkenal itu. Kalaupun kau tetap tidak mau membuatku, warnailah aku. Kekanak-kanakan? Siapa bilang. Banyak pelukis diluaran sana yang menghasilkan pundi-pundi uang dan menjadi jutawan berhasil menyaingi para pengedar itu bahkan lebih dari apa yang kita tau. Jika kau tidak percaya goresanku dapat menenangkan hati dan pikiranmu, buktikan dan tanyakan saja kepada wanita muda yang lebih jauh mengenalku. Selvi Febriani. Dialah wanita muda penggugah rinduku.



#KMP2SMI

#ODOPBACTH7

#KOMUNITASODOP

Rabu, 02 Oktober 2019


GALERI ANAK TUKANG KAYU

Episode 2 :
Di pertigaan jalan terlihat silau mata kendaraan roda empat membuat laju legenda ayahku semakin kencang. Berusaha mencegat elf merah maroon. Supir elf melirik ke arah spion, memerhatikan legenda tua ayahku yang kewalahan mengejar, akhirnya supir elf itu pun menginjak rem.  Syukurlah. Legenda tua ayahku memang bisa diandalkan.  

            “Ke kota?” Tanya supir elf sambil membantu membawa kardus miliku.

            Aku mengangguk.

“Yo naek!” teriaknya girang.

Selagi aku sibuk mencari tempat duduk yang nyaman, ayah memarkirkan legenda tua miliknya di salah satu rumah warga yang pintunya masih tertutup rapat. Pintu-pintu rumah akan terbuka jika matahari sudah terasa hangatnya.

“Assalamualaikum…Assalamualakum… Kang Iwan nitip motor” teriak ayah meminta izin pemilik rumah.

 Tidak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka. Rupanya itu adalah kang Iwan. Samar-samar kudengar perbincangan keduanya, kang Iwan menanyakan seputar pendidikan yang saat ini akan kutempuh.

Kang hayu!” ajak sopir elf.

            “Siap pir” jawab ayah. Langkah kakinya sedikit berlari.

            “Di sini Ma” tanganku menepuk jok mobil yang sedari tadi menunggu kehadiran Ayah.

            Mesin berdesing begitu gagahnya, aroma bensin tercium begitu menyengat. Saat ini belum terasa pengap karena sesaknya penumpang, mungkin satu atau dua jam lagi muatan elf ini akan melampaui kapasitas.  Anak sekolah, para buruh, dan penumpang lain masih bertahan dalam sesaknya angkutan umum.

            Sepanjang jalan, pikirku tertinggal di tanah kelahiran. Sukmaku masih bersama hangatnya langit pedesaan, jauh dari kekejaman langit ibu kota. Kebun karet yang berjejer kini tergantikan oleh gedung-gedung pencakar langit, menyuguhkan senyum sinis seraya berkata “Selamat datang di ibu kota anak desa”. Sungguh nyaliku menciut. Aku tak yakin akan bisa dengan mudah beradaptasi di lingkungan baru. Tak hentinya aku memanjatkan doa, memohon kasih sayang-Nya.

            Tujuh jam perjalanan membuat otot-ototku lelah. Merengek tak sabar. Berharap segera merebah. Bayang-bayang tanah kelahiran seketika terhempaskan oleh ketakjupan.

            Singkat cerita aku sudah sampai di Yayasan yang memintaku untuk mengajar al-Qur’an. Subhannallah. Decak kagum bertaburan dalam aliran darahku. Menancap hati yang gundah.

            Tolaal badru alaina…minsaniyatil wada’….wa jaba…syukru alaina…mada’al lillahida’…” serentak anak-anak kecil usia Sekolah Dasar (SD) menyambut hangat kedatanganku.

            “Assalamualaikum Ustadzah Nafisah” dengan langkah anggun mendekat, bersalaman, merangkul tulus. Sontak aku pun membalas rangkulannya. Tak lupa melontarkan senyuman. Ayah tersenyum haru merenung nasibku. Terlihat getar bibir yang senantiasa mengucap syukur.    

            Ustadzah? Ya Allah benarkan panggilan ini pantas dengan pribadiku yang jauh dari teladan? Air mataku kembali buncah.

Bersambung…

#KMP2SMI

#ODOPBACTH7

#KOMUNITASODOP

#DAY24

Selasa, 01 Oktober 2019


GALERI ANAK TUKANG KAYU

Fajar masih malu-malu menampakan diri di ufuk timur.  Kumandang adzan telah usai lima menit lalu. Satu dua kokokan ayam terdengar tanpa kantuk. Ruang tengah beralaskan papan kayu jati yang masih lengang disulap menjadi ruang shalat. Bukan maksud apa-apa ini karena istana kami masih setengah jadi. Permasalahan ekonomi masih setia mengikat keluarga kami. Beruntung beberapa tahun lalu aku masih merasakan serba kecukupan, jauh dari keadaan yang sekarang. Dua sejadah biru navi tergelar rapi mengajak kehusyu’an. Satu menjadi imam dan yang satu menjadi makmum. Sang imam mengakhiri shalat dengan salam. Dia adalah ayahku.

Kali ini ada yang berbeda dengan raut wajah ayahku ketika memohon doa. Kulirik sejenak wajah lelah yang tengah menitikan air mata. Cukup lama Ayah menengadah memanjatkan doa begitu khusyu’. Sementara fokusku buyar karena tercium aroma telor ceplok mengisi ruangan.

Neng sarapan dulu!” teriak Ibu.

“Iya Mah” spontan aku menjawab meskipun sedang berdoa.

Ayahku pun mengakhiri doanya. Aku mendekat meraih, mencium lembut punggung tangannya. Hatiku teriris ketika bibirku menyentuh permukaan kulitnya yang  kasar. Wajar saja, karena Ayahku bekerja sebagai tukang kayu. Seketika air mataku buncah. Memohon maaf dan meminta restu akan keberangkatanku. Hatiku campur aduk, antara senang dan gelisah. Semoga ini adalah pilihan yang tepat. Setelah gagal daftar di beberapa Universitas impian. Akhirnya Allah memberikan jalan yang membuat beban keluargaku tidak begitu berat. Aku ditawari beasiswa di Perguruan Tinggi Swasta dengan syarat mengajar al-Qur’an di salah satu Yayasan yang sudah berdiri satu abad lamanya. Sebuah Yayasan yang senantiasa melahirkan lulusan-lulusan yang berkualitas. Kabarnya.   

Ayah memang bukan tipikal orang tua yang rewel dengan masa depan anaknya. Ia selalu memberikan kebebasan dalam menentukan pilihan hidup selama itu baik bagiku. Selama hidupku bersentuhan dengan al-Qur’an, mendekap hangat al-Qur’an, ayahku akan dengan mudah mengizinkan.

Ma, Eneng mau berangkat, doakan Eneng ya Ma

Aku memanggil ayahku dengan sebutan Mama. Tanpa huruf H diujung kata ketika di baca. Mama adalah panggilan khas daerahku. Sebuah panggilan yang sering digunakan untuk memanggil tokoh-tokoh ulama. Kenapa aku memanggilnya Mama padahal Ayahku bukanlah seorang ulama? Mungkin beberapa orang menanyakan hal ini. Itu adalah sebuah bentuk penghormatan kepada orang tua. Memuliakan seorang Ayah yang telah mengurusi dan menjaga anaknya.

Kesunyian terganggu oleh segukanku yang tiada henti. Ayah pun larut dalam tangis. Merangkul, mengusap kepala dengan tulus. Ayah tidak berkata banyak. Ia hanya menitipkan pesan untuk tetap menjaga al-Qur’an.

Neng cepetan udah siang! Nanti ketinggalan mobil!” teriak Ibu dari dapur.

“Iya Mah sebentar pake kerudung dulu”

            Aku menuruni tangga yang terbuat dari kayu. Ya, rumahku berlantai dua namun jauh dari kata mewah. Hidup di bantaran sungai memaksa kami untuk membangun rumah berlantai dua. Jaga-jaga jika air sungai meluap, masih ada tempat untuk bermalam. Lantai bawah sengaja di kosongkan untuk menaruh karya-karya Ayahku. Impian membuat galeri mebel selalu terngiang dalam benaknya. Sungguh hatiku pilu.

            Aku menghampiri Ibu yang tengah menyendokan nasi untuku.

            “Gak papa Mah, biar aku aja” tanganku mencegah.

            “Ah, sudahlah duduk saja”

Aku menurut. Disediakan pula segelas teh jahe untuk menghangatkan badan. Ibu memang begitu pengertian. Ia bahkan menyetrika baju yang akan aku kenakan selagi aku sibuk di kamar mandi. Aku begitu malu karena dulu sikapku tidak begitu baik padanya. Aku bahkan membencinya. Karena, ia telah mengambil posisi ibu kandungku yang tujuh tahun lalu berpulang menuju alam peristirahatan.  

Ayah menghidupkan Legenda andalannya. Cepat-cepat aku menghabiskan suapan dan meneguk air hangat.

Neng hayu  ajak ayah.

“Iya Ma” sambil memboyong bawaan dan berpamitan.

“Hati-hati ya Neng. Semoga selamat” suaranya terdengar berat. Terlihat air mata tertahan menggenang. Tak sempat aku berpamitan kepada kedua adiku yang tertidur pulas.  

“Mah” air mataku kembali buncah tak tertahan. Kupeluk erat punggung kurus itu. Bahuku terasa basah oleh derai air mata Ibu.  

Langit masih biru navi, fajar belum begitu menyinar terang. Hanya lampu senter yang menunjukan jalan.

Bersambung…

#KMP2SMI

#ODOPBACTH7

#KOMUNITASODOP

#DAY23

Senin, 30 September 2019


Tersumbat Mantan

TULISAN INI AKAN DIBUKUKAN


#KMP2SMI

#ODOBACTH7

#KOMUNITASODOP

#DAY22

Sabtu, 28 September 2019


Daur Ulang Mantan

Bagiku mantan bukanlah sesuatu yang mengerikan. Mantan bisa menjadi motivator. Seperti halnya aku yang menjadikan mantan sebagai tolak ukur kesuksesan.  Bukannya aku tidak bisa move on, hanya saja aku mengambil sisi positif dari seorang mantan yang sering kali dihempaskan. Setidaknya melirik secercah kebaikan mantan. Menghindari kebencian yang berlebih.

Beruntung. Mantanku seorang hafidz Qur’an. Pribadi dan perangainya pun baik. Ya, meskipun tidak setingkat dengan Taqy Malik. Hafalan Qur’an berhasil mengantarkannya menuju impian. Lantunan merdu sang mantan akan terus terdengar hingga alam semesta tak bersisa. 

Aku tak bisa bohong dengan hati. Tak ada niatan secuil pun untuk kembali, melainkan aku iri dengan keberhasilannya meraih mimpi. Berkah al-Qur’an memancarkan cahaya untuk dia yang tengah meniti tangga kehidupan. Perlahan, iri ku berubah menjadi sebuah motivasi. Setidaknya aku bisa mengejar, melangkah sejajar ataupun berlari melampaui.

Kini ia tengah duduk di bangku Universitas ternama. Mengambil jurusan yang menyangkut agama. Sedikit demi sedikit menuai hasil kerja kerasnya. Air mataku berderai. Puncaknya, putus asa menghajar mimpiku yang tak pernah terbangun.     

Aku tak pernah menyesal sempat membiarkannya singgah, aku bahkan tak enggan menyebut namanya. Karena ku tahu, kesalahan masa lalu tak sepenuhnya ada pada diri yang lugu itu. Di sudut malam, aku memutuskan untuk menegakkan mimpi, mendaur ulang mantan menjadi motivator sejati.
#KMP2SMI
#ODOPBACTH7
#KOMUNITASODOP
#DAY21

Onyet Unyu


Cinta monyet turut melengkapi alur kehidupanku. Kisah percintaan yang menggelitik jika diingat masa kini dengan panggilan sayang yang terkesan ‘alay’. Sudah sepatutnya aku mengucapkan terimakasih kepada facebook yang telah berkenan menjadi saksi. Jempol tangan kananku mondar-mandir di layar digital maha karya Vietnam untuk sesekali menyeret kronologi tahun 2014 untuk mengorek kenangan lama. Ah, itulah wanita. Munculah deretan postingan masa itu.

“Ahaha…gila ih alay banget” Tanganku membanting bantal kesayangan.

Sebuah postingan yang menyampaikan rasa rinduku pada dia. Ya, dia yang sekarang telah menjadi mantanku. Jangan salah, postingan ungkapan rindu sedang hitsnya pada masa itu. Wajar saja anak lulusan SMP, lagi puncak-puncaknya pubertas mulai meniti masa SMA yang sering dianggap masa-masa paling indah rupanya mendorongku untuk menemukan keindahan itu. Yah, apalagi kalau bukan keindahan cinta. Pikirku melayang menuju masa lampau. Masa-masa konyol bersama sang mantan.

   Kala itu, tengah sibuk-sibuknya masa ta’aruf dalam istilah lain Masa Orientasi Sekolah (MOS) di SMA. Dengan malu aku katakan ia jatuh hati padaku. Mungkin saja karena kebetulan kita satu kelompok, ia lebih sering memerhatikanku. Ah sudahlah, selebihnya aku tak tahu.

 Namanya Rikza Septia. Seorang remaja laki-laki berusia lima belas tahun dengan paras yang imut. Benar-benar imut berpadu padan dengan alis hitam tebal serta telinganya yang caplang. Bahkan saking imutnya ketika kita memutuskan untuk jadian aku memanggilnya dengan sebutan Monyet Lucu yang dipelesetkan menjadi Onyet Unyu. Sebuah panggilan sayang yang dianggap mesra pada masa itu. Kalau dipikir-pikir di masa sekarang panggilan itu amat kasar dengan memanggilnya ‘Monyet’. Kocaknya ia pun memanggilku dengan sebutan Kelinci Dekil. Aku tidak tersinggung sama sekali, karena kekuatan cinta buta menutup rapat cacatnya. Tak henti aku tertawa ketika teringat.

Kalaulah masa kini panggilan tersebut masih berlaku, mungkin aku sudah dicap sebagai anak alay 90’an. Namun, aku menemukan hikmah dib alik itu semua, yaitu tentang kelapangan hati. Begitu mudah menerima pandangan jika terselip cinta kasih. Aku meyakinkan diri bahwa panggilan itu akan selalu berkesan sampai tiada hari.   



#KMP2SMI

#ODOPBACTH7

#KOMUNITASODOP

#DAY20

ULASAN CERITA PENDEK KAMAR MANDI MERTUA A.    ORIENTASI Cerita pendek yang berjudul Kamar Mandi Mertua merupakan maha karya yang ...